• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Malang News

Panen Masih Berlangsung, Petani Malang dan Blitar Tolak Impor Beras

13 January
09:50 2018
0 Votes (0)

KBRN Malang : Berangkat pada paradigma lama yang menganggap adanya musim paceklik sebagai penyebab menurunnya stok beras dinilai sebagai suatu isu seksi yang mudah “digoreng” oleh segelintir oknum yang berniat menjegal upaya penyediaan pangan nasional.

Paradigma pertanian lama itu pun kini dinilai usang karena kontinuitas produksi gabah tetap ada sepanjang tahun dan stok beras terus mengalir. Hal ini terbukti karena beberapa wilayah di Jatim masih terdapat kegiatan panen padi kendati sebagian wilayah lainnya saat ini dalam kondisi tanam. “Tiada hari tanpa tanam, tiada hari tanpa panen” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Dr. M Syakir dalam rangkaian acara safari panen padi di Jawa Timur, Sabtu (12/1/2018)

Kegiatan safari panen dimulai dari Desa Curungrejo Kec. Kepanjen Malang dilanjutkan ke Desa Jati Tengah Kec. Selopuro Kab. Blitar dan direncanakan akan berakhir pada 13 Januari 2018 di Tulungagung dan Ponorogo. Panen padi, di Kab. Malang bertempat di lahan kelompok tani “Mekarsari I dengan varietas dipanen antara lain: Ciherang, Inpari-12 dan Logawa dengan luas panen seluas 78 ha dengan total hamparan 176 ha.

Giat panen kedua dilaksanakan di lahan kelompok tani “Barokah I” dengan varietas yang dipanen “Malindo” yang mampu mencapai produktivitas 7,5 ton/ha serta harga gabah Rp. 5000 – 5500/kg GKP. Dalam kesempatan panen di beberapa lokasi tersebut, Syakir menjelaskan bahwa produksi beras nasional saat ini masih dalam pendampingan dan pengawalan yang ketat dari Kementerian Pertanian.

Hal ini terbukti dengan digulirkannya kebijakan-kebijakan yang mendukung sektor pertanian. Pemerintah sudah memberikan bantuan benih unggul, pupuk, perbaikan jaringan irigasi, alsintan hingga asuransi pertanian yang dapat memberikan jaminan kepastian usaha pada petani”, tandasnya.

Dukungan dari jajaran TNI yang mengawal realisasi luas tambah tanam (LTT) di wilayahpun dinilai sebagai komitmen nyata yang patut diapresiasi. Sementara, Seolah keringat mengucur tanpa arti dan jerih payah yang tidak terbayar impas, kebijakan impor beras dinilai berpotensi mencederai upaya dan kontribusi petani dalam penyediaan pangan. “Kami masih sanggup memproduksi beras, kami tidak butuh impor beras”, demikian ujar petani di Malang.

Senada dengan pernyataan tersebut, Edi salah seorang petani dari kelompok tani Barokah I Desa Jati Tengah sangat menyayangkan adanya kebijakan impor beras. Menurutnya, petani di wilayahnya masih sanggup mencapai hasil panen yang lebih tinggi dengan dukungan dari pemerintah terutama terkait penyediaan sarana produksi pada petani.(as)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00