• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Kekerasan Terhadap Perempuan Indonesia Terus Meningkat

22 November
14:45 2017
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia kecenderungannya meningkat. Berdasarkan data dari dari Komnas Perempuan, kekerasan pada perempuan untuk tahun 2016 mencapai 293 ribu kasus.

Komisioner Komnas Perempuan Nina Nurmila mengatakan diperkirakan untuk tahun ini, kasus untuk kekerasan terhadap perempuan lebih besar dibandingkan tahun lalu. Pihaknya belum mendapatkan data dari Pengadilan Agama.

“Selalu naik. Tahun lalu mencapai 293 ribu sekian. Untuk tahun 2017 di laporkan menurun tetapi bukan karena kekerasan menurun tetapi kita tidak data dari Badilag. Data dari Badilag besar. Data Badilag kita ambil dari kasus perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama,” kata Nina Nurmila, usai acara Diplomatic Forum RRI World Service Voice of Indonesia, Rabu (22/11/2017).

Data tertinggi, kekerasan terhadap perempuan didominasi dengan korban ibu rumah tangga dan kekerasan didalam pacaran. Lebih lanjut Nina mengatakan, disatu sisi angka kekerasan meningkat namun disisi lain, kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan ke pihak berwajib atau pihak terkait semakin baik. Apabila sebelumnya kekerasan terhadap perempuan dianggap urusan pribadi sehingga masyarakat tidak ada berani melapor namun seiring kesadaran masyarakat, masyarakat mulai berani untuk melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan.

 Adapun untuk penyebab kekerasan adalah budaya patriarki, yaitu kaum pria menganggap lebih tinggi perannya dan kedudukannya ketimbang wanita.

“Sehingga perempuan dianggap ‘apa sih perempuan’ sehingga dipukul tidak apa-apa, menciptakan kekerasan terhadap perempuan. Faktor ekonomi. Banyak opportunity kerja diakses perempuan kemudian disalahkan ketika lelaki menganggur. Kalau menganggur menjadi frustasi dan cenderung melampiaskan ke orang yang lebih lemah dari dirinya yaitu perempuan,” ujarnya.

Dampak dari kekerasan terhadap perempuan tidak hanya menimbulkan bekas luka namun juga meninggalkan trauma mendalam. Belum lagi kekerasan secara seksual. Mengenai peran pemerintah, dia menilai masih kurang. Didalam regulasi atau aturan, korban kekerasan kurang mendapatkan perhatian terutama untuk menghilangkan trauma.

“Belum maksimal,  sayang sekali. Harus didukung dengan pembahasan penegasan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual artinya sekarang ini yang ada lebih fokus menghukum pelaku tetapi tidak memperhatikan kesejahteraan korban misal recovery, trauma healing,” ujarnya.

Penghapusan kekerasan terhadap perempuan adalah tugas bersama. Tidak hanya tugas pemerintah dan kepolisian tetapi seluruh elemen masyarakat termasuk kaum pria.

“Bahwa dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan, tidak bisa satu orang. Kita perlu saling terintegrasi. Semua stakeholder, masyarakat menjadi everybody responsibility. Kalau ada tetangga yang ‘prang prang’ jangan dibiarkan . Kita harus intervensi karena itu bukan lagi urusan pribadi”.

“Laki-laki harus berperan aktif untuk menyetop kekerasan terhadap perempuan. Happy kalau tidak melakukan kekerasan. Kalau perempuan berdaya, every will happy. Laki-laki adalah teman perempuan, saling mendukung,” tegasnya. (Sgd/Foto:Teguh/AKS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00