• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Legenda, Awal Kehidupan Baru Anak Manusia

5 December
15:51 2017
6 Votes (1.7)

KBRN, Banyumas : Hujan rintik-rintik pagi di awal Desember, Honda Legenda Tahun 2000 milik Ipung, melaju pelan di belantara jalan raya  Bandung–Yogyakarta, tepatnya di wilayah Rawalo Banyumas Jawa Tengah. 
 
Seperti biasa Ipung harus bergegas, agar tidak terlambat sampai di Terminal Bulupitu Purwokerto. Untuk bekerja sebagai penjaga WC umum, yang sudah dijalani sejak tujuh tahun lalu. 

Dengan pekerjaan ini, Ipung bisa menghidupi istri dan kedua orang tuanya. Meski harus menempuh jarak, sekitar 70 km pulang pergi. Dari kediamananya yang berasal di Desa Gerduren, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas.

Ipung yang mempunyai nama asli Rakim kepada RRI  mengatakan, awalnya dirinya bekerja di Karawang Jawa Barat di sebuah pabrik, dengan penghasilan lumayan. Namun pada tahun 1999 atau saat akan menapak usia 20 tahun, terjadi kecelakaan kerja. Sehinga kaki kirinya cacat, dan tidak berfungsi normal. 

Dengan kondisi ini hidup Ipung terpuruk, waktunya dihabiskan di rumah tanpa ada kegiatan apapun. Hingga akhirnya, sekitar tahun 2010, adiknya memberi sepeda motor Honda Legenda bekas.  

“Saya berfikir bagaimana mungkin saya bisa mempergunakan Honda ini, padahal kaki saya satu tidak berfungsi. Akhirnya saya ketemu dengan kawan lama, yang menceritakan ada bengkel di daerah Wangon, yang bisa memodifikasi sepeda motor roda dua menjadi roda tiga. Dengan biaya pada waktu itu sekitar Rp3,5 juta, bantuan kedua orang tua,” kata Ipung. 

Ipung pun akhirnya menemui pemilik bengkel BWR Modification bernama Toro, dan meminta untuk dimodifikasi Honda Legenda miliknya. Setelah melakukan diskusi dengan Toro, dan menunggu selama satu bulan. Akhirnya sepeda motor impian Ipung jadi.

Setelah berlatih seminggu, Ipung bisa mengendarai sepeda motor roda tiga ini. Kehidupannya mulai berubah ketika, mendapatkan tawaran dari temanya. Untuk menjaga WC umum dengan gaji sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten, di Terminal Bulupitu Purwokerto. Semangatnya untuk membuat lebaran hidup barupun sangat besar, untuk kembali membangun puing- puing impian yang sempat hilang.

“Hidup baru saya, dimulai ketika mendapatkan sepeda Honda. Selanjutnya bisa mengendarainya, dan mendapatkan pekerjaan. Alhamdulilah hidup saya sekarang sudah berubah, sudah semangat lagi untuk membangun masa depan. Ketika mendapatkan musibah, saya tidak bisa ngapa-ngapa, murung dan dirumah terus,” kata Ipung di Wangon, Selasa (5/12/2017).

Ipung mengaku, bahan bakar sepeda motornya cukup irit, sekitar 1,5 liter bensin untuk perjalanan pulang pergi, dari  rumah menuju Terminal Purwokerto. Selain itu, selama empat tahun tidak pernah ada masalah berarti, meski digunakan setiap hari. Komponen yang sering diganti yakni ban belakang, yang diganti satu tahun sekali. Untuk perawatan kendaraan cukup mudah, seperti sepeda motor lainya, hanya servis ringan dan ganti oli sebulan sekali.

Bengkel Modifikasi.

Toro mengaku awal dirinya membuat modifikasi motor bebek roda dua, menjadi roda tiga.  Karena adanya permintaan seorang penyandang tuna daksa dari Jatilawang, Kabupaten Banyumas, untuk memodifikasi Honda Grand. Selanjutnya membuat modifikasi motor milik Ipung dan empat sepeda motor lainya.

Sebelum membuat, Toro berdiskui dan melihat kondisi pemesan. Setelah itu dilakukan perencanaan dan pemilihan matrial modifikasi , dengan lama pengerjaan  dua minggu hingga satu bulan. Dengan biaya, mulai Rp2,5 juta-Rp6 juta, tergantung jenis kendaraan dan tingkat kemampuan difabel. 

“Kebetulan miliknya Mas Ipung dari Honda Legenda, kemudian kami buat rangka arm sesuai dengan kebutuhan si penguna. Motor Mas Ipung, kita buat agar bisa masuk rumah, kita gunakan besi holo 2 x 4 dengan ketebalan 2,5 mm. Kemudian di rangkai dengan komposisi roda dengan jarak 80 cm. bagian roda kita buat spanner, agar rantai bisa disetel tidak boros. Kerangka arem kita perkuat dengan stut kanan kiri, agar tidak mudah patah dan goyang saat dibawa berkendara," kata Toro di Wangon.

Sementara itu, data di Pemerintah Kabupaten Banyumas, saat ini ada lima ribu lebih difabel. Dengan dominasi tuna daksa, sejumlah tuna daksa bisa mengendarai sepeda motor modifikasi. Untuk membina difabel mandiri, Pemerintah Banyumas melakukan pembinaan. 

Kepala Bidang Perlindungan Jaminan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Pemberdayaan Masayarakat Desa (Dinsospermades) Kabupaten Banyumas, Agus Sriyono mengatakan pihaknya sudah banyak memberikan fisilitasi kepada para disabilitas untuk peluang kerja, sesuai dengan disabilitas yang disandangnya. 

Termasuk memberikan lokasi usaha perbengkelan, cukur dan pijat yang ada di Jalan Gerliya Purwokerto. Untuk penyandang Difabel lainya, yang tidak bisa diberdayakan akibat kondisi fisik yang tidak memungkinkan akan diberi bantuan langsung berupa makanan, susu dan lainya.

“Jadi nanti semua penyandang disabilitas tidak ada yang tidak tertangani. Termasuk yang tidak bisa punya potensi apa-apa, minimal terpenuhi kebujtuhan dasarnya. Melalui  Gerakan Penyandang Disabilitas Sukses (Gendis) semua permasalahan disabilitas kita tampung dan akan ditindakalanjuti,” pungkas Agus.

Ipung tercatat sebagai pemegang surat ijin mengemudi  pertama bagi difabel ( SIM D), yang dikeluarkan oleh Polres Banyumas pada tahun 2016. Dengan sepeda motornya, Ipung menemukan dan  menelusuri kehidupan barunya. (RA/WDA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00