• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pilkada Serentak

KPU Jadikan Pemilu dan Pilkada Sebagai Wisata Politik.

13 January
09:35 2018
0 Votes (0)

KBRN, Mataram : Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan  menjadikan pemilu dan pilkada sebagai sesuatu yang menarik, menyenangkan, riang gembira, rekreatif, pro rakyat dengan nilai – nilai religi, ekonomi dan budaya serta fungsi - fungsi relasi sosial dengan keramahan dan keakraban. 

Selain itu, dijauhkan dari konflik, isu- isu SARA, transaksional dalam bentuk money politik, ketegangan, kerenggangan satu sama lain, saling curiga dan benci serta pertemuan - pertemuan dengan muka masam dan provokasi.

“Menjadikan penyelenggara dan stakeholder sebagai mitra dan pelayan bagi semua sebab penyelenggara dan stakeholder adalah teman dan mitra, posisinya tidak berhadap - hadapan dengan peserta dan pemilih. Mereka adalah pihak yang netral, sehingga berkewajiban memberikan pelayanan dengan penuh senyuman dan keakraban serta memberikan edukasi yang memiliki nilai kebajikan dan pencerahan,” kata Ketua KPU Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Aksar Ansori, Sabtu (13/1/2018).

Didalamnya, ada KPU dan Bawaslu serta jajarannya, pemerintah, polisi, ASN, media massa, LSM, perguruan tinggi dan lainnya.  Semuanya sebaiknya berperan pelayanan dengan tugasnya masing - masing dapat dijalankan secara baik dan aktif. 

“Jadi akan indah kalau semua berperan sebagaimana mestinya. Menjadikan tempat - tempat pelayanan sebagai wisata pendidikan,” tambahnya.

Ia mengatakan, dalam pelayanan tentunya ada edukasi-edukasi yang membuat masyarakat bertambah pengetahuan dan keterampilannya. Akan semakin baik dalam mendapatkan hak - haknya dan akan semakin cerdas sehingga akan semakin jauh dari perilaku yang membiarkan praktek transaksional dan provokatif. 

Pusat – pusat pelayanan menyajikan data dan informasi secara menyenangkan baik audiovisual, taman – taman bermain dan ruang - ruang terbuka di pusat pelayanan dan di tempat publik.

Dikatakan, melaksanakan tahapan dengan aturan - aturan hukum yang tegak lurus disertai kreasi muatan agama dan budaya.

Pelaksanaan norma - norma hukum perlu didukung juga dengan tausiyah agama dan adat  budaya yang disampaikan melalui sekolah-sekolah, balai pertemuan, rumah ibadah dan bahkan dalam perhelatan agama dan budaya seperti maulid, pengajian umum, pertunjukan wayang, drama dan tari, tembang - tembang merdu.

“Melaksanakan kerja-kerja tahapan sebagai perjalanan wisata bagi penyelenggara, peserta dan pemilih sebagai sebuah perjalanan wisata yang menyenangkan,” imbuhnya.

Para calon dan tim sukses yang berkeliling kampung menyusuri sungai, setapak, pantai, sawah, hutan dan pepohonan dengan berjalan kaki, bersepeda, mengendarai kuda, mendayung sampan bahkan mungkin mengangkat celana hingga paha karena melalui genangan air dan juga mungkin ditandu. 
Dan dalam perjalanan itu nampak akrab berdialog dan berdiskusi dengan petani, nelayan, buruh, pedagang.  Apalagi kegiatan berkeliling ini yang ditampilkan di medsos, di koran, di layar – layar video dan televisi bukankah sangat indah dan menyejukkan?.

Begitu juga dengan penyelenggara yang sedang melakukan coklit pemilih, yang tengah melakukan verifikasi dan mengantar undangan untuk bertemu dengan masyarakat di berugak, di sawah, di kandang sapi, di pos-pos ronda, di lapangan sepak bola atau mungkin di sebuah acara budaya dan agama. 

Sungguh sebuah gambar dengan sajian indah. Diceritakan dan ditayangkan tetap saja menjadi menarik seperti perjalanan wisata. Daripada memasang baliho di pohon atau di taman kota sangat tidak menarik dan tidak ekologis. Daripada gambar calon di baju kaos di kerumunan menampakkan acungan tangan dan muka melotot, sangat tidak rekreatif. 

“Menjadikan pusat-pusat keramaian sebagai kegiaatan ekonomi seperti di tempat kampanye, di TPS, di percetakan, di posko – posko calon. Saat pemungutan dan penghitungan suara di TPS seluruh masyarakat tumpah ruang dengan fashion terbaik menggunakan hak pilih, mengikuti seluruh proses dan memantau penyelenggara dan peserta. Saat yang sama di TPS tersebut berbaris rapi penjual sembako, cendol, kamilan, nasi bungkus dan pak bas juga. Malah kalau penjual gule gending menjual gula - gula sambil menari dan memainkan gendingnya pastilah akan meriah. Juga KPPSnya berbusana adat atau berbusana seperti orang mau naik haji, sedap dipandangnya,” tuturnya.

Intinya, mari kita selalu mengekspresikan diri agar pemilu dan pilkada menampakkan penyelenggara, calon dan pendukungnya serta masyarakat pemilih  selalu dalam suasana hati yang sejuk dan lapang, menampakkan diri riang gembira serta membuat semua medan dan prosesnya sebagai wisata politik.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00