• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Berita Olahraga

Fanatisme Punggawa PSMS Meredup?

16 April
20:52 2018
1 Votes (5)

KBRN, Medan : Kekalahan telak 1-4 yang dialami PSMS Medan atas tuan rumah PSIS Semarang pada pekan keempat kompetisi Gojek Liga 1 Indonesia Baru, Minggu (15/4/2018) lalu, menambah rentetan hasil kurang apik bagi tim berjuluk ayam kinantan.

Hasil tersebut membuat tim asuhan Djajang Nurdjaman harus bertengger di posisi ke 17 klasemen sementara dengan tiga poin dari hasil empat laga, atau satu tangga di atas tim juru kunci Arema FC.

Kekalahan telak atas tim Laskar Mahesa Jenar juga cukup mengejutkan. Sama–sama berlabel tim promosi Liga 1 musim 2018, PSMS terlihat tidak dikdaya meladeni permainan Bruno Silva cs. Padahal, pada semifinal Liga 2 musim 2017, PSMS mampu menang 2-0.

Berbagai pro kontra menilai permainan Legimin Raharjo Cs juga bermunculan di berbagai media sosial. Tidak banyak pihak pula yang menilai permainan PSMS tidak bertaji sore itu. Seperti anak kehilangan induknya. Memang pantas saja, sang pelatih kepala Djajang Nurdjaman tidak bisa mendampingi  tim lantaran mengikuti kursus lisensi AFC Pro di Yogyakarta.

Kritikan juga dilontarkan sang legenda PSMS Medan Sunardi A. Pemain yang pernah membawa tim yang dulunya dijuluki ‘the killer’ ini menjuarai Liga era Perserikatakan 1983 dan 1985, menilai jika permainan tim PSMS tidak memiliki jati diri sesungguhnya. Sunardi menyoroti koordinasi antara lini juga masih lemah.

“PSMS kemarin bermain seperti kehilangan jati diri waktu lawan PSIS. Saya lihat di bawah lumpuh, dan di atas ompong. Artinya striker kita tidak menggigit, kecuali untuk sayap sudah bagus. Apalagi Yessoh selama empat kali pertandingan awal kompetisi belum ada cetak gol,” ucap Sunardi A kepada RRI, Senin (16/4/2018) sore.

Dikatakan mantan sang kapten PSMS ini, performa para pemain asing PSMS yang diharapkan bisa menghidupkan gaya permainan  tim juga sejauh ini dinilai belum terlihat. Sunardi juga meilai penampilan Lobo saat itu terlalu over comfident sehingga lupa dengan tugas utamanya sebagai stopper tim.

“Gelandang asing kita, saya lihat si Dilshod itu memang suplay bolanya bagus, tapi kecepatannya lambat. Saya lihat juga koordinasi pemain bawah itu tidak ada dalam menghalau serangan lawan. Saya catat ada 14 kali si Lobo babak pertama ikut menyerang. Memang betul, kita mau cetak gol, tapi kalau seperti itu dia lakukan bolak–balik, secara otomatis stamina berkurang. Stopper itu punya insting, sabar, dan tidak mudah panas, mampu membaca permainan lawan, dan menjaga rekan–rekannya di bawah,” jelas Sunardi A.

Sunardi juga menilai komunikasi antara lini per lini belum berjalan optimal, terutama lini bawah dengan tengah yang terlihat panik saat menghalau gempuran tim lawan. Hal itulah yang membuat terciptanya tiga gol PSIS dalam rentang kurang dari 10 menit.

“Sama halnya Roni juga memiliki karakter permainan yang sama dengan Lobo. Lini belakang PSMS terlihat keropos. Gelandangnya juga terlambat mengcover. Jadi, koordinasi antara gelandang dan pertahanan kurang optimal,” cetusnya.

Sunardi juga menyoroti penampilan lini depan PSMS yang kurang menjanjikan terutama kepada striker asing asal Pantai Gading Wilfried Yessoh yang belum mencetak satu gol pun selama 4 laga yang telah dijalani PSMS. Bahkan Sunardi berpesan agar tim pelatih bisa secepatnya melakukan evaluasi kepada anak asuhnya di saat kompetisi masih baru berjalan empat pekan.

“Harusnya PSMS bisa cari striker yang punya heading. Artinya pemain tersebut harus dievaluasi. Artinya kita khawatir juga ke depannya untuk PSMS. Saya rasa pemain asing harus dievaluasi juga. Artinya, kalo memang dalam dua laga berikutnya seperti ini juga, bagus cari yang lain kenapa? Pemain asing kalo tidak berkualitas buat apa?” pesan Sunardi.

Sunardi menilai bahwa kualitas materi pemain lokal juga tidak kalah dengan pemain asing yang ada di PSMS. Sunardi menyarankan kiranya pada laga selanjutnya tim ini sudah harus memiliki fanatisme tinggi baik saat bermain di kandang maupun away.

“Sebenarnya pemain lokal bisa kita berdayakan, tapi yang betul–betul. Saya lihat laga kemarin juga fanatisme pemain itu tidak tumbuh. harusnya pemain belakang sudah bisa membaca permainan Bruno Silva. Intinya, pemain belakang harus cepat membaca striker lawan,” jelasnya.

“Kesempatan untuk evaluasi tentu masih ada. Kalo bermain di kandang memang semua tim juga ingin menang. Tapi setidaknya harus bermain draw sudah bagus,” tambahnya.

Laga pekan kelima kala menjamu tim dari ujung timur Perseru Serui pada Jumat (20/4/2018) malam tentu diharapkan bisa menjadi titik balik kepercayaan diri para punggawa PSMS. Mereka harus melupakan kekalahan atas PSIS. Kemenangan tentu menjadi harga mati bagi Legimin cs jika tidak ingin berada di dasar klasemen.

Sang pelatih Djajang Nurdjaman juga harus berani melakukan sejumlah rotasi pemain di laga nanti, mengingat masih penuhnya jadwal kompetisi. Hal itu paling tidak pernah dibuktikan PSMS, kala mengalahkan tim macan kemayoran Persija Jakarta di Stadion Teladan. (JS/WDA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00