• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

LPSK Terima Permohonan Bantuan dari 8 Korban Ledakan Bom di Surabaya

16 May
20:36 2018
1 Votes (5)

KBRN, Surabaya : Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyebut ada 8 korban ledakan bom di Surabaya yang mengajukan permohonan bantuan rehabilitasi medis dan psikologis.

Wakil Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo mengatakan, pihaknya sudah berada di Surabaya sejak Minggu sore dan telah berkordinasi dengan Kepolisian, Densus 88, rumah sakit dan pihak gereja.

"Kami mencatat ada 46 orang yang menjadi korban teror bom di Surabaya, termasuk yang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, ada delapan orang yang sudah mengajukan permohonan bantuan rehabilitasi medis dan psikologis. Kami terus cari data dan siap melakukan pendampingan kepada korban yang membutuhkan," kata Hasto Atmojo Suroyo, Rabu (16/5/2018) petang.

LPSK, kata Hasto, berjanji memfasilitasi para korban tragedi bom jika menuntut ganti rugi kepada negara. Ini bisa diserahkan melalui tuntutan Jaksa saat proses pengadilan. Untuk para korban tewas, LPSK akan memberikan bantuan berupa santunan.

"Negara juga dapat menanggung kerugian materiil seperti kendaraan yang terimbas ledakan dan bangunan gereja yang rusak. LPSK sudah berkordinasi dengan Pemprov Jatim dan Pemkot. Kerusakan bangunan ini ditangani pemprov, sedangkan untuk kendaraan yang rusak ditanggung Pemkot. Kalau yang di Sidoarjo Kita belum bertemu dengan Pemkab. Tentu saja LPSK akan memastikan bantuan ini segera dilaksanakan," ungkap Hasto.

Korban dan pihak keluarga, lanjut Hasto, bisa menyampaikan permohonan bantuan kepada LPSK melalui fax. 02131927881 - 02131907021 - 02129681552. Atau bisa pula ke alamat LPSK di jl. Raya Bogor KM 24 no. 47-49 Susukan, Cirakas, Jakarta Timur.

Kondisi Anak Korban Bom Membaik 

Kondisi bocah perempuan berinisial Ais yang selamat dari bom bunuh diri orangtua dan kakaknya di markas Polrestabes Surabaya, terus membaik. Ais kini masih dalam perawatan intensif di RS Bhayangkara, Surabaya.

Ia sudah melewati masa kritis dan dipindahkan ke ruang rawat inap. Seperti diketahui, Ais terlempar dari motor yang dinaiknya bersama ayahnya, Tri Murtono dan ibunya, Tri Ernawati yang meledakkan diri, Senin, 14 Mei 2018.

"Untuk Ais tadi sudah makin baik, sudah bisa diajak bicara dengan pendampingnya," jelas Hasto Atmojo Suroyo, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Rabu (16/5/2018).

Hasto sudah melihat langsung kondisi sejumlah korban teror bom di RS Bhayangkara.

Menurut dia, khusus untuk Ais mengalami luka yang agak berat di bagian perut dan tangan kiri.

"Ada luka yang katanya masih terasa di bagian dalam perut, atau di bagian abdomen seperti kena pukulan benda tumpul," jelas Hasto. Namun menurutnya, kondisi Ais sudah membaik daripada sebelumnya. Sementara kondisi korban anak anak lainnya yang juga di rawat di RS Bhayangkara juga lebih baik lagi.

"Ais ini yang paling parah, tapi sudah membaik yang lainnya malah lebih baik lagi," lanjutnya. Meski begitu trauma psikis yang dialami anak anak ini jauh lebih berat dari sakit secara fisik yang dialami.

"Pendampingan psikologi tentu dilakukan dalam jangka panjang. Tidak bisa sebentar. Untuk kondisi psikologis, LPSK akan memberikan fasilitasi bantuan konseling dari jajaran Polda dan beberapa psikolog dari UINSA, untuk menyampaikan materi terkait keagamaan kepada korban anak anak," lanjutnya.

Sebelumnya, tercatat ada empat anak terduga teroris yang masih di bawah umur menjadi korban dalam aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo. Dalam ledakan bom bunuh diri di Rusunawa Wonocolo, dengan pelaku Anton, tiga anaknya AR (15), FH (11), H (11), menjadi korban luka. Sementara dalan aksi serangan di Mapolrestabes Surabaya, AIS (8) yang dibawa orangtuanya, terlempar dan diselamatkan Kasat Narkoba AKBP Rony Faisal.

LPSK tambah Hasto, mendesak RUU Terorisme segera tuntas, agar ada payung hukum terutama ditingkatan Kepolisian dan terkait kewenangan LPSK.

"DPR agar bersungguh-sungguh agar tidak jatuh kirban lagi. Kita harap para korban yang potensial jadi saksi, LPSK bisa memberikan bantuan pendampingan dan perlindungan di rumah aman. Juga terhadap anak-anak korban yang kesaksiannya sangat penting," pungkasnya. (EJ/HF) 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00