• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Sang Gubernur Pemberani

7 November
13:09 2019
0 Votes (0)

KBRN, Magetan: Nama dan gelar kebangsawanannya ialah Raden Mas Tumenggung Ario Suryo, lahir di Magetan, 9 Juli 1898.

Kisah tentang keberaniannya telah tertuang dalam berbagai literasi sejarah. Diantaranya saat seorang perwira Jepang datang bersama beberapa ajudannya dalam kondisi marah tanpa sebab menemui Suryo dan menghunuskan pedang. Saat itu, Suryo yang menjabat sebagai Bupati Magetan tampak tenang dan menjawab kemarahan perwira Jepang tersebut dengan lantang berbahasa jawa yang artinya.

Tanpa sebab musabab dan tanpa memberi salam kau datang dan marah. Saya tidak bersalah dan saya tidak takut".

Seketika perwira Jepang itu terdiam, menyarungkan pedangnya kembali, lalu melangkah meninggalkan kantor Bupati.

Kisah lain tentang keberanian Suryo tercatat pada momentum ultimatum tentara Inggris kepada penduduk Surabaya. Saat itu November 1945, penduduk Surabaya yang memiliki senjata api harus segera menyerahkan senjata mereka di tempat-tempat yang telah ditentukan oleh Inggris, selambat-lambatnya pukul 06.00 pada 10 November 1945. Setelah Gubernur Suryo rapat dengan pihak terkait, diputuskan bahwa ultimatum itu ditolak.

Jelang hari jadi provinsi Jawa Timur beberapa waktu lalu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa bersama jajaran pemerintah daerah Kabupaten Magetan berziarah ke makam gubernur Suryo. Khofifah yang sempat menitikkan air mata menyatakan bahwa gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepada Raden Mas Tumenggung Ario Suryo telah sesuai dengan jasa-jasanya.

“Beliau dengan dedikasi pengorbanan dan pengabdiannya yang sudah teruji maka beliau mendapat gelar Pahlawan Nasional,"kata Khofifah, Jumat (11/10/2019).

Airmata Khofifah jatuh saat mengingat tragisnya pembunuhan Gubernur Suryo oleh PKI. Kejadian nahas tersebut berlangsung di Desa Bogo, Kedunggalar, Ngawi. Saat itu mobil Suryo berpapasan dengan sisa-sisa gerombolan PKI. Pada saat itu pula dari arah Madiun datang mobil yang ditumpangi oleh Komisaris Besar (Kolonel) Polisi M Duryat dan Komisaris (Mayor) Polisi Suroko dalam perjalanan ke Yogyakarta. Kedua mobil itu diperintahkan berhenti oleh gerombolan PKI tersebut.

Suryo, Duryat, dan Suroko diperintahkan turun dari mobil. Mereka dibawa ke hutan. Di tempat inilah Gubernur Suryo dan dua orang lainnya itu dihabisi PKI. Empat hari kemudian, jenazah Suryo ditemukan penduduk di Kali Kakah, Dukuh Ngandu, Desa Bangunrejo, Kedunggalar, Ngawi, lalu dibawa ke Madiun dan jenazah Gubernur Suryo dimakamkan di Sawahan, Desa Kepalrejo, Magetan.

“Kalau aku terharunya dalam, ga bisa menahan tetesan airmata. Perjuangan yang luar biasa yang sudah dilakukan oleh seorang Raden Mas Tumenggung Ario Suryo. Selain pahlawan nasional tapi juga peletak pondasi dan babat alasnya Jawa Timur. Sampai beliau mendapat perlakuan dari riwayat yang dibacakan tadi menurut saya sadis“, tutur Khofifah.

Nama ketiga tokoh tersebut saai ini diabadikan dalam sebuah monumen bernama Monumen Suryo. Monumen tersebut diresmikan pada 28 Oktober 1975 oleh Pangdam Brawijaya Mayjen TNI Witarmin.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00