• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Emerson: Belum Ada Obat Mujarab Sembuhkan Korupsi di Indonesia

9 December
07:22 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Sedunia. Aktivis Anti Korupsi yang juga Wakil Direktur Visi Integritas Emerson Yuntho mengatakan peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia masih dalam suasana keprihatinan. 

Hal itu lantaran selama 10 tahun terakhir, Indonesia belum bisa keluar dari zona negara terkorup dunia berdasar penilaian Tranparency International.

Menurutnya dengan skor indeks persepsi korupsi (IPK) terendah 0 dan tertinggi 100, Indonesia selalu meraih rapor merah atau di bawah skor 50. Pada 2015, skor IPK Indonesia adalah 36 dan menempati posisi ke-88 di antara 168 negara. Terakhir, pada 2016, skor IPK Indonesia bertambah satu poin menjadi 37 dan berada di urutan ke-90 di antara 176 negara.

"Peringkat Indonesia tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negeri jiran, misalnya Singapura dan Malaysia," kata Emerson kepada rri.co.id, Jakarta, Senin (9/12/2019).

Emerson mengakui, tidak mudah diselesaikan persoalan korupsi di Indonesia yang sudah sedemikian terstruktur, sistematis, dan masif. 

"Belum ada obat mujarab yang jitu untuk menyembuhkan penyakit korupsi di Indonesia," ungkapnya.

Meski demikian, lanjutnya upaya memerangi atau mengurangi praktik korupsi yang luar biasa (extra ordinary) harus dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa pula dan melalui pendekatan yang juga terstruktur, sistematis, dan masif.

"Salah satu cara luar biasa memerangi korupsi adalah dengan upaya penindakan atau penegakan hukum yang keras dan tanpa kompromi terhadap pelaku korupsi," jelasnya. 

Menurut Emerson sebagai upaya memberikan efek jera, pelaku yang terbukti melakukan korupsi sebaiknya tidak hanya dihukum penjara dengan seberat-beratnya dan mengembalikan uang korupsi ke kas negara. Namun, mereka juga perlu dimiskinkan dengan menggunakan regulasi anti pencucian uang. 

"Tindakan yang keras untuk koruptor, baik secara hukum maupun administratif, setidaknya memberikan dampak mengurangi niat orang lain untuk melakukan korupsi," terangnya. 

Emerson mengatakan meskipun pendekatan penindakan atau penegakan hukum tetap penting dan harus dilakukan, langkah itu dinilai belum mampu menyelesaikan semua masalah korupsi di negeri ini. 

Oleh karena itu, pemberantasan korupsi sebaiknya tidak saja berfokus kepada upaya penindakan. Namun, itu juga harus berkesinambungan dengan upaya pencegahan korupsi.

Menurutnya, upaya-upaya pencegahan korupsi harus tetap menjadi prioritas untuk mempersempit ruang gerak para koruptor guna mencuri uang rakyat maupun melakukan penyimpangan. 

"Sesungguhnya di lingkungan eksekutif, legislatif, dan yudikatif sudah banyak program antikorupsi yang ditawarkan dalam rangka mencegah adanya penyimpangan atau praktik korupsi. Namun, yang sangat diperlukan saat ini ialah memastikan program pencegahan tersebut dilaksanakan secara sungguh-sunguh dan bukan seremoni belaka," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00