• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Opini

Dua Bola Mata Novel, Dua Polisi Aktif Serahkan Diri: Siapa Sang Aktor?

28 December
12:16 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Angin ribut berhembus dalam mega skandal JS Saving Plan Asuransi Jiwasraya. Tiba-tiba, terkuak dua orang polisi aktif berpangkat Brigadir, yaitu RM dan RB, menyerahkan diri. Keduanya mengaku sebagai pelaku penyerangan Novel Baswedan, 11 April 2017. Dua bola mata Novel kini cacat, dan bukti kekejian tersangka pelaku.

Lantas dengan menyerahnya dua tersangka yang melakukan penyerangan, sebenarnya merupakan babak baru perkembangan penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Ini bukan  akhir cerita tapi justru merupakan babak baru bagi Polri untuk segera mengungkap apa sebenarnya motif penyerangan terhadap Novel dan siapa dalang pelakunya.

Publik tidak mudah percaya bila motif penyerangan Novel hanya dilakukan oleh kedua anggota polri aktif yang kini  ditangkap, dan atas dendam pribadi, atau alasan lain yang masih misteri. Terlebih beberapa waktu lalu Tim bentukan Polri sudah menyampaikan hasil kerjanya. Salah satunya menyatakan bahwa penyiraman air keras terhadap Novel diduga kuat karena pengungkapan kasus-kasus korupsi besar oleh Novel Baswedan. Ada enam kasus high-profile yang ditangani Novel, termasuk kasus elite dan petinggi Polri masa itu. 

Tentunya kita mengapresiasi gebrakan Kapolri Jenderal Idham Azis dan Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo yang baru bertugas di pos tersebut. Publik mengapresiasi di awal kerjanya, Kabareskrim berhasil menangkap dan menetapkan tersangka dua pelaku penyerang Novel. Namun di sisi lain, publik harus  memonitor dan mengawasi penyidikan yang dilakukan oleh Polri. Agar harapan masyarakat masalah ini segera terungkap dengan jelas dan tidak ada yang ditutupi.

Saya kira masyarakat wajar khawatir karena Tim bentukan Polri sudah bekerja, sekitar sembilan  bulan lamanya. Cukup jauh rentang waktunya, dibanding  setelah terjadinya peristiwa penyerangan terhadap Novel  pada tanggal 11 April 2017. Apalagi sudah 73 saksi dan 7 kali prarekonstruksi digelar. Penanganan dengan uji data dan analisis secara scientific crime investigation, butuh waktu panjang, tenaga yang banyak, dan berhembus bermacam-macam rumors yang menakutkan.

Pengungkapan apa motif dan siapa dalang penyerangan terhadap Novel merupakan pertaruhan bagi citra Polri di masyarakat. Apakah Polri serius dan mau mengungkap kasus seperti yang dialami Novel Baswedan, terlebih tersangka pelakunya adalah anggota polri yang masih aktif,  publik selalu menunggu babak dramanya. Jangan sampai keduanya ”pasang badan” untuk orang lain.

Sebagaimana kita ketahui, anggota Polri dalam bertindak berdasar atas perintah atasan atau kesatuannya. Tentu saja ada sebab dan akibat di dalamnya.

Presiden juga harus terus mengawasi kerja Polri agar proses hukum terhadap pelaku penyerangan Novel sesuai dengan harapan dan  keinginan publik. Khususnya kasus penyerangan Novel selaku korban penyerangan, menimbulkan riak-riak yang cukup menegangkan bagi publik.

Ada atau tidak dengan skandal Jiwasraya sebagai isu baru yang mulai memanas, publik juga harus obyektif menyikapi. Adanya tudingan Genk Solo di tubuh Polri akibat promosi zig-zag untuk jabatan tertentu, mungkin saja ini salah satu jawaban dari pihak yang dituding. Semakin mempertegas polarisasi di tubuh Polri selama ini.

Terlepas dari semua isu atau rumors, Polri harus satu. Publik ingin kebenaran ditegakkan. Ingin keadilan bagi setiap warga negara. Dua bola mata Novel Baswedan terlalu mahal bagi penegakan hukum di republik yang kita cintai bersama ini, terlepas Novel juga punya kasus masa lalu saat bertugas sebagai polisi aktif, dan mungkin juga kasusnya kelam.

Pentas drama kasus Novel hari-hari ke depan, memasuki babak baru. Pertarungan bukan hanya di arena kasus kriminal, tapi juga politisasi. Cukup seksi, soalnya. Menggetarkan rasa keadilan. Perang opini sebagai psywar juga akan mewarnai hari-hari mendatang. Kecurigaan adanya aktor dari tokoh nasional, harus diungkap seterang-terangnya.

Sebagai penonton, publik punya harapan, dan skenario sendiri dalam pikirannya# Pada akhirnya, publik tak boleh terlena. Publik juga sebaiknya memantau dan mengamati kasus skandal Jiwasraya supaya terungkap apa yang sesungguhnya terjadi. Spekulasi harus dibalas dengan transparansi kepada khalayak. ***

Oleh: Ori Rahman SH (Peneliti Cikini Studi dan Advokat)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00