• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Santri Pelestari Bumi

29 December
20:15 2019
1 Votes (5)

KBRN, Banyumas : Mentari baru sepenggal menampakan wajahnya, terlihat tiga anak muda sedang memunguti plastik yang berserakan, kemudian plastik  mengumpulkannya dalam tong sampah  di area  Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda. 

Ponpes yang diasuh Muhammad Abror, akrab dipanggil Gus Abror, ini terletak di Dusun Bulakan, Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok Banyumas, Jawa Tengah. Sekitar 10 kilometer ke arah barat dari Kota Purwokerto. 

Santri di Ponpes ini, sekitar 1000 orang, terbagi santri wanita dan pria. Tidak heran sampah yang dihasilkan cukup banyak, baik sampah plastik, maupun sampah sisa makanan atau sampah organik. 

Namun sejak tahun 2015, pengurus Ponpes mulai melakukan pengelolaan sampah, dengan melibatkan santri. 

Lurah Santri Pompes Nurul Huda, Muhamad Hanif mengatakan, setiap santri mempunyai kewajiban untuk menjaga kebersihan Lingkungan Ponpes.

“ Saya pertama datang ke sini, masih banyak yang gudigen (scabies). Cuman dua tahun berikutnya, khususnya tahun kemarin saya lihat hampir tidak ada santri yang gudigen. Biasanya santri baru, biasanya santri baru ini khususnya tahun ini jarang banget. Sampai akhirnya saya bingung, saya cari- cari loh kok nga ada yang gudingen,”kata Hanif.

Bank Sampah Bulakan 

Bangunan berdinding kayu dan anyaman bambu berukuran 6  meter x 6 meter berdiri sederhana di bawah rerimbunan pohon manggis dan kelapa. Bangunan ini digunakan sebagai gudang dan pemilahan sampah, atau lebih dikenal dengan Bank Sampah Bulakan, yang berjarak sejengkal dari  Ponpes Nurul Huda. 

Siang itu, ibu paruh baya bernama Umi Ngadiyah mengetuk pintu,  tersebut untuk menyerahkan sejumlah sampah kepada pengelola .

Kepada RRI Umi mengatakan, sejak adanya bank Sampah tahun 2017, dirinya menjadi anggota hingga saat ini. Didasari, kemudahan yang didapat untuk membuang sampah. Terutama sampah plastik, maupun logam. 

Sebelumnya  membuang sampah dalam lubang- lubang tanah atau lebih disebut “luang sampah” yang berada di belakang rumahnya. Tahun ini tabungan Umi, sudah mencapai Rp200 ribu, dari hasil sampah yang di setor ke Bank Sampah. 

Selain itu, Umi juga bisa menghemat pengeluaran dalam satu hari rata- rata Rp7 ribu, yang berasal dari pembelian sayuran dan cabai. Sebab puluhan polibek tanaman sayuran ditanamnya, dengan pupuk kompos.  

Sampah organik  dari rumah tangganya dimasukan kedalam komposter, sebagai pengasil kompos. setiap tiga rumah terdapat satu komposter padat dan kompster cair. Komposter ini juga disediakan oleh Bank Sampah Bulakan.

“ Yah satu jadi lingkungan sekitar jadi bersih, sama menambhan rupiahlah sedikit- sedikit ditabung disini. Kalau sisa sayuran dimasukin ke komposter, untuk dijadikan pupuk cair buat menyiram tanaman. Bagus hasilnya tanaman, lebih ini untuk menyiram bunga- bunga atau sayuran. Kan disini banyak yang nanam kangkung, cesim, terong, buat ketahanan pangan. Kemarin kan cabai sempat mahal yah. Kita kebanyakan disini pada menanam cabai. Jadi nga perlu beli cabai,” kata Umi.

Di dalam bank sampah yang sederhana, terdapat lelaki berpeci bernama Mukofa tengah sibuk memeriksa tumpukan sampah. Hampir tiga tahun ini Mukofa menjadi kordinator bank sampah. 

Mukofa mengatakan, tiap bulanya terkumpul tidak kurang dari 200 kilogram sampah  kertas, 50 Kg sampah plastik dan 20 Kg sampah logam. Awalnya Bank Sampah ini, hanya melayani Ponpes Nurul Huda, kemudian beralih melayani warga  di Dusun Bulakan yang mencapai empat RT di dua RW. 

Dengan jumlah nasabah saat ini mencapai 80 rumah dan warung.  Setiap sampah yang masuk ke bank sampah, ditimbang, ditulis dalam buku tabungan sesuai jenis sampah dan harga. 

Selanjutnya sampah ini disortir menjadi tiga bagian, yakni sampah yang bisa dimanfaatkan, di antaranya  plastik, kertas dan logam.  Sampah organik berupa sampah dari rumah tangga. Terakhir sampah yang sudah tidak dimanafaatkan lagi, seperti plastik rusak dan lainnya. 

Untuk sampah plastik yang kondisinya masih baik, akan didaur ulang menjadi berbagai bahan kerajinan. Sampah rumah tangga, langsung dimasukkan ke komposter menghasilkan kompos, sedangkan sampah organik dari Ponpes di masukan alat biomethagreen penghasil biogas. 

Sisa sampah yang tidak dimanfaatkan, akan dibuang ke hangar sampah yang didirikan oleh Pemerintah.  Dalam satu tahun, rata-rata peserta bank sampah mendapatkan penghasilan antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Tabungan ini biasanya dibagikan menjelang perayaan Idul Fitri.

“Alhamdulilah dengan perkembangan waktu yah, mereka juga mementingkan kebersihan lingkunga. Juga sudah merasakan bagaimana, susahnya membuang sampah. Sehingga masyarakat sudah mulai sadar, masalah kebersihan. Ataupun masalah sampah yang ada di rumah, sudah diurus dengan baik,” kata Mukofa.

Peran Gus Abror dan PT. PAMA

Sudah 23 tahun ini Gus Abror mengelola Ponpes Nurul Huda. Usaha bank sampah berawal dari banyaknya sampah seiring bertambahnya santri dan semakin luas kompleks Ponpes Nurul Huda, mencapai 1 hektare.  Mulai tahun 2015 dibuatlah penanggung jawab dari lingkungan pondok dan masyarakat sekitar untuk mengurusi sampah. 

Pada tahun 2017 dilembagakan, dengan melibatkan masyarakat sekitar sebagai pengurus.  Tidak mudah memang, untuk menerapkan pola hidup bersih, dan mengolah sampah dilingkungan santri dan masyarakat di sekitar Ponpes Nurul Huda. 

Sehingga  Gus Abror gencar memberikan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih kepada masyarakat Bulakan dan Langgongsari di setiap ada kesempatan.  

Baik saat pengajian rutin yang dilaksanakan setiap seminggu sekali di ponpes ataupun saat dirinya diundang masyarakat untuk memberi ceramah atau memimpin doa selamatan. 

“Ada anggapan santri harus terkena gudik terlebih dahulu, jadi santri. Dan justru itulah yang menjadi tantangan kami, Kamipun disini mengalami hal seperti itu. Ternyata endingnya karena mereka tidak bisa menjaga kebersihanya sendiri, sekarang bagaimana dia akan menjaga kebersihan yang lain. Kalau belum bisa menjaga kebersihanya diri sendiri  Bagimana dia menjaga kebersihan lingkungan, kalau masih bermasalah dengan kebersihan dirinya sendiri. Justru inilah yang sedang kami upayakan untuk diimplementasikan kawan- kawan santri, agar Kebersihan dari pada Iman, bukan hanya jargon atau slogan. Tapi itu implementasi dari keimanan kita sendiri,” kata Gus Abror.

Keberadaan Bank Sampah Bulakan tidak terlepas bantuan dari pihak swasta, dan Pemerintah. Keterlibatan swasta,  yakni anak usaha PT. Astra yakni PT. PAMA. Project manager CSR PT. Pama, Yullah Haidir mengatakan, bantuan yang diberikan olehnya  selain pelatihan pengelolaan bank sampah, pelatihan pembuatan kerajinan sampah plastik. 

Selain itu, ada bantuan pemberian sekitar 30 komposter, puluhan tong sampah, dua unit biomethagreen, satu unit biogas dari kotoran manusia,  peralatan dan gedung bank sampah dan lain sebagainya dengan nilai ratusan juta rupiah.

“ Kalau disini orang bilang apa kata Kyai saya, apa kata kyai saya kalau warga disini. Sehingga kita kalau meminta kepada Gus Abror, Gus tolong dong agar inilah, warga disini untuk dihimbau tolong untuk sampahnya dijaga. Jangan buang sampah sembarangan, atau apa. Ngomongnya ke beliau karena orang disini apa kata kyai saya. Bukan kegiatan komersil, pasti ada turun naik semangat warga pasti ada, ” terang Haidir. 

Data di DLH Banyumas, sampah plastik di Banyumas yang dihasilkan oleh warganya dalam sehari mencapai 52 ton. Jika upaya pemanfataanya dilakukan dari tingkat bawah, niscaya sampah plastik ini, tidak akan jadi masalah, malah menjadi manfaat. 

Seperti yang dilakukan oleh Para Santri Pondok Pesantren Nurul Huda Langongsari Banyumas, Mereka Sang Pelestari Bumi.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00