• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

BPPT Kembangkan Teknologi SMART Cable untuk Peringatan Dini Tsunami

13 January
19:44 2020
2 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus meningkatkan pemanfaatan teknologi untuk merespons bencana alam yang terjadi di Tanah Air. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan pemanfaatan Science Monitoring And Reliable Telecommunications (SMART) Cable Tecnhology untuk memperkuat sistem peringatan dini bencana tsunami di Indonesia (INA-TEWS).

Kepala BPPT, Hammam Riza mengatakan, proses mengimplementasikan pemanfaatan SMART Cable Technology ini dilakukan secara internasional bersama Amerika Serikat dengan pembentukan satuan gabungan. Adapun satuan gabungan yang terlibat antara lain dari perwakilan pemerintah, sektor swasta serta universitas yang telah melakukan penelitian dalam 10 tahun terakhir.

Ia menilai hasil kolaborasi tersebut menyimpulkan bahwa SMART Cable Technology merupakan solusi yang layak digunakan. Menurutnya, teknologi tersebut memiliki kelebihan secara ekonomis untuk memenuhi penguatan operasi peringatan dini tsunami.

"Rencananya teknologi ini akan memperkuat sistem deteksi dan peringatan dini tsunami, karakterisasi sumber tsunami dan prakiraan gelombang tsunami di wilayah Indonesia," ujar Hammam dalam acara Seminar Penguatan Operasi Peringatan Dini Tsunami, di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Hammam menyebut pemanfaatan SMART Cable Technology akan menambah produk teknologi yang digunakan Indonesia untuk merespons bencana tsunami. BPPT, lanjut ia, telah memiliki Cable Base Tsunameter (CBT) dan Pelampung Buoy yang juga berfungsi untuk peringatan dini tsunami.

Ia menilai SMART Cable Technology yang masih dalam proses pengembangan tersebut lebih kuat dan mampu bertahan lama. Selain itu, proses pemeliharaannya pun tidak sulit dan terlindung dari guncangan yang biasa terjadi pada permukaan laut.

"Namun BPPT menyadari bahwa untuk mengembangkan sistem seperti itu, membutuhkan konsistensi dan komitmen berkelanjutan dari pemerintah. Karena mungkin memerlukan waktu 10 hingga 20 tahun," jelas Hammam.

Hamam memastikan pemerintah akan terus berbenah terutama untuk melakukan perbaikan serta peningkatan kewaspadaan terhadap bencana. Menurutnya, proses penerapan inovasi dan teknologi yang mutakhir dapat dioptimalkan untuk meminimalisir dampak kerusakan maupun korban jiwa yang biasanya terjadi pasca bencana.

"Tsunami itu memang tidak biasa, kejadian ini tentu saja mendorong pemerintah Indonesia mengamanatkan kepada BPPT untuk mengembangkan peralatan pendeteksi tsunami," jelasnya.

Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Yudi Anantasena menambahkan, untuk tahun 2020 ini, BPPT rencananya akan memasang empat cable based tsunameter (CBT) di wilayah Timur Indonesia, yaitu di sekitar Pulau Halmahera, Maluku Utara, dan 8 buoy di sejumlah perairan Indonesia, guna memperoleh data tentang potensi tsunami di perairan Pasifik yang dekat dengan wilayah Timur Indonesia.

Sebelumnya pada 2019 lalu, BPPT telah memasang dua CBT di Pulau Sertung dan Pulau Sipora serta empat buoy, masing-masing di Selatan Jawa yakni di Selat Sunda, Selatan Jawa Tengah, Selatan Jawa Timur, dan Selatan Bali-Lombok.

"CBT akan mengklarifikasi apakah benar terjadi tsunami atau tidak sehingga Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bisa lebih cepat lagi memastikan," terang Yudi.

Ia mengakui bahwa biaya pemasangan Advance CBT untuk tahap awal memang lebih mahal dibanding buoy yang hanya sekitar Rp 5 miliar hingga Rp 6 miliar dari pembuatan hingga pemasangan. Namun, buoy setiap tahun perlu pemeliharaan seperti penggantian baterai dan rentan dirusak (vandalism). Sementara untuk CBT tahap awal lebih mahal, misalnya CBT di Sertung sekitar Rp 7 miliar, namun tidak perlu perawatan tahunan, serta masa operasi hingga 20 tahun. Sejumlah negara maju seperti Jepang, Taiwan dan Italia diketahui sudah memanfaatkan teknologi CBT ini.

Sementara Bidang Geofisika BMKG, Muhammad Sadly berharap CBT mampu mendukung pengembangan teknologi pendeteksi tsunami lebih tepat cepat dan akurat. BMKG selaku pengguna, akan memanfaatkan data yang dikirim oleh BPPT ini untuk melakukan mitigasi bencana dengan memberi peringatan dini lebih awal kepada masyarakat yang terdampak tsunami.

"Lebih cepat datang informasi lebih bagus sehingga bisa mengurangi potensi korban," ucap Sadly.

BMKG sendiri di tahun 2019 sudah memasang 194 sensor seismik, 100 broadband seismik dan 94 miniregional seismik untuk mengepung pengamatan sesar-sesar aktif. Jadi, lanjut Sadly, satu sesar bisa dikepung lima sensor.

Sementara untuk 2020 ini, BMKG akan memasang 175 broadband seismik untuk merapatkan jaringan pendeteksi gempa dan tsunami yang saat ini berlangsung dalam waktu 5 menit.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00