• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Kemenkes Cegah Perkawinan Sesama Penyintas Thalasemia

15 January
22:55 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Baru -baru ini, penyakit Thalasemia kembali muncul ke permukaan. Hal ini diketahui dari data Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI) Jawa Barat yang menyatakan bahwa penderita thalasemia paling banyak di Indonesia berada di Provinsi Jawa Barat.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie yang menyatakan, Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah menempati posisi teratas pada kasus ini.

“Ya, di Jawa Barat dan Jawa Tengah terbanyak,” ujar Cut saat dikonfirmasi RRI di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Menurutnya, Thalasemia merupakan penyakit tidak menular yang berasal dari genetik kedua orang tua.  Satu-satunya upaya pencegahan penyakit ini adalah mencegah perkawinan calon pasangan suami istri (pasutri) yang sama-sama menderita Thalasemia. Namun dalam kasus ini, jika didapati calon pasutri tetap ingin menikah, maka keduanya harus merencanakan keturunan mereka dengan perawatan berkala. Sebab, kemungkinan besar keturunan mereka akan terserang penyakit yang sama di kemudian hari.

“Pada prinsipnya, kita hanya bisa mencegah perkawinan sesama pembawa sifat (sama-sama penderita-red). Tapi, kalau sudah saling cinta kan gak bisa. Mereka hanya bisa merencanakan keturunannya, karena sesama pembawa sifat, kemungkinan anaknya akan di transfusi darah seumur hidup,” kata Cut.

Ditinjau dari dr. Tjin Willy melalui laman alodokter.com, Thalasemia adalah kelainan darah yang diturunkan dari orang tua. Kelainan ini membuat penderitanya mengalami anemia atau kurang darah sehingga penanganannya juga berkepanjangan. Kurang darah yang dialami penderita thalasemia akan menimbulkan keluhan cepat lelah, mudah mengantuk, hingga sesak napas. Akibatnya, aktivitas penderita thalasemia akan terganggu.

Sampai saat ini, penyakit Thalassemia tidak dapat disembuhkan, sehingga jika pasien  menderita  thalasemia tipe berat, maka ia perlu di transfusi darah berkepanjangan. Namun, jika penderita mengalami thalasemia tipe ringan, maka ia hanya perlu melakukan cek rutin ke dokter. Thalasemia perlu diwaspadai, terutama thalasemia yang berat (mayor), karena dapat menyebabkan komplikasi berupa gagal jantung, pertumbuhan terhambat, gangguan hati, hingga kematian.

Thalasemia ditandai oleh kurangnya hemoglobin dan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari batas normal. Thalasemia merupakan kelainan genetik yang berkepanjangan, sehingga perawatannya perlu dilakukan seumur hidup. Penderita thalasemia akan melalui transfusi darah berulang untuk menambah sel darah yang kurang. Pada kasus thalasemia yang parah, dokter mungkin akan menganjurkan penderita untuk melakukan transplantasi sumsum tulang.

Lebih lanjut, Cut Putri menambahkan, tahun ini pihaknya akan melakukan uji coba ke Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk mengedukasi masyarakat mengenai penyakit langka ini.

“Kami lagi uji coba, untuk sampai ke tahap begitu dia sudah tahu skrining penyakitnya- tinggal kita edukasi, kami gak boleh nikah dengan sesama (Thalasemia). Tapi kalau dia tetap mau menikah, maka dia harus merencanakan keturunannya dengan sebaik mungkin. Pilihan kan tuh, dia mau melahirkan atau mau angkat anak,” lanjutnya. 

Sementara itu, data BPJS Kesehatan tahun 2018 sampai Agustus 2019 menunjukkan bahwa penyakit Thalassemia menempati peringkat ke 5 yang memakan biaya pelayanan BPJS paling besar setelah penyakit kanker dan stroke. Cut Putri pun membenarkan hal ini.

“Peringkat kelima, iya,” tuturnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00