• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Ini Alasan Indonesia Negara Agraris Tapi Masih Impor

17 January
22:03 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Sebagai negara agraris ternyata Indonesia telah lama tidak mampu mencukupi kebutuhan pertaniannya. Oleh karena itu, dari sayuran, buah-buahan dan palawija masih berpotensi impor. Fenomena ini terjadi akibat siklus perubahan perkembangan perekonomian Indonesia, dari negara miskin menjadi negara maju dan berkembang.

"Jadi negara miskin ke maju, terjadi perubahan struktural dalam sistem perekonomian. Yang awalnya berbasis pertanian dan Sumbar Daya Alam, berubah menjadi negara berbasis industri dan jasa," ungkap Guru Besar Fakultas Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dwi Andreas Santoso kepada RRI PRO3, Jumat (17/1/2020).

Dampaknya kata Dwi Andreas, otomatis perhatian pemerintah pada sektor pertanian semakin menurun, dan mendorong pada sektor insdustri dan jasa. 

"Akibatnya pemerintah konsen mengurusi kaum urban, dimana orang bekerja di sektor industri dan jasa. Dimana bicara masalah perut yang harus dipenuhi," ungkapnya.

Sehingga, tambah Dwi Andreas, pemerintah akan cenderung berpikir pragmatis. Mencari alternatif termurah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat urban tersebut. 

"Pemerintah jadinya berpikir pragmatis, kalau di luar negeri barang lebih rendah, ngapain petani didorong untuk meningkatkan komoditas yang bersangkutan, tidak terjadi hanya di bawang putih. Mengapa hampir 100 persen impor. Alasannya harga di tingkat internasional jauh lebih murah dibandingkan yang ditanam petani," jelasnya.

Dwi melanjutkan, hal serupa akan dilakukan pemerintah jika dikaji dalam sisi ketahanan pangan. Dimana pemerintah akan memikirkan hal termurah untuk memenuhi ketahanan pangan. 

"Apalagi bicara ketahanan pangan, tidak peduli barang itu berasal apakah itu impor atau produksi dalam negeri. Yang dipikirkan pangan murah terjamin konsumen. Itu konsep ketahanan pangan," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00