• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Menperin: Revisi UU Minerba untuk Pacu Hilirisasi Industri

14 February
14:31 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kementerian Perindustrian mendorong revisi Undang-Undang Minerba agar terjadi hilirisasi industri yang lebih baik, guna meningkatkan nilai tambah produk, khususnya di sektor minerba.

Menurut Menperin, guna memacu hilirisasi industri minerba, perlu adanya aturan mengenai pemberian izin yang berkaitan dengan pertambangan dan proses produksi.

"Kemenperin dan Kementerian ESDM sudah sepakat kalau ada investor atau perusahaan yang berdiri sendiri, kemudian melakukan kegiatan smelting, maka dia akan menggunakan Izin Usaha Industri (IUI). Sedangkan, bagi perusahaan smelter yang lokasinya sudah terintegrasi dengan lahan pertambangannya, menggunakan Izin Usaha Pertambangan (IUP)," jelas Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita dalam pembahasan RUU Minerba di Jakarta, Jumat ( 14/2/2020).

“Oleh karena itu, kami sangat mendukung upaya dari revisi UU minerba ini untuk mempercepat hilirisasi," tegasnya.

Terkait revisi UU Minerba, DPR dan pemerintah telah mengesahkan Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-undang Mineral dan Batu Bara (RUU Minerba), yang terdiri dari ketua dan anggota Panja terdiri atas 26 orang perwakilan DPR dan 60 orang perwakilan pemerintah.

Panja tersebut, nantinya membahas Daftar Isian Masalah (DIM) dari RUU Minerba yang sudah dibuat oleh pemerintah. DPR menargetkan kerja Panja ini selesai pada Agustus tahun 2020.

“Kita semua punya pandangan yang sama mengenai pentingnya inovasi. Hilirisasi menjadi salah satu program utama pemerintah,” tukas Menperin Agus.

Untuk mendukung hilirisasi industri minerba, Menperin Agus Gumiwang mendorong penggunaan teknologi baru sebagai bagian dari penerapan industri 4.0 di Indonesia. Disamping peningkatan kualitas sumber daya manusianya dan kegiatan litbang untuk inovasi .

Kemenperin mencatat, hilirisasi industri telah berjalan baik di berbagai sektor, termasuk di sektor pertambangan. Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah menjadi salah satu contoh industri yang  sudah berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel ore menjadi stainless steel. 

Sebagai gambaran, harga jual nickel ore sekitar USD40-60, sedangkan ketika sudah menjadi stainless steel harganya bisa di atas USD2000.
 
Sementara itu, nilai ekspor Kawasan Industri Morowali menembus USD4 miliar, baik itu pengapalan produk hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerika Serikat dan China. 

Kontribusi Kawasan Industri Morowali terlihat dari capaian investasinya  dari  USD3,4 miliar di tahun 2017 menjadi USD5 miliar di tahun 2018, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 30 ribu orang.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00