• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

COVID-19 Mewabah, Work From Home Staf Indonesia di PBB Berjalan Solid

26 March
01:14 2020
0 Votes (0)

KBRN, New York : Wabah virus Corona baru (COVID-19) yang merebak di banyak negara, juga berdampak pada aktivitas di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat. 

Kasus positif COVID-19 di Negara Bagian Amerika Serikat itupun menunjukkan peningkatan signifikan di tiap harinya. Hingga Rabu (25/3/2020) total positf COVID-19 di New York mencapai 30,811 kasus yang meningkat 5,000 kasus sejak Selasa. 

Markas Besar PBB yang berada di New York masih beroperasi, meski sebagian besar perwakilan negara asing telah menerapkan Work from Home (Bekerja dari Rumah).

Hal itu juga turut dilakukan oleh Perutusan Tetap RI (PTRI) untuk PBB di New York. Sebagaimana diketahui Indonesia saat ini menduduki posisi sebagai anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019 - 2020.

Wakil Tetap RI di New York, Dian Triansyah Djani, mengatakan, WFH telah diterapkan kepada seluruh staf PTRI sejak pekan lalu, namun berbagai agenda tetap dilaksanakan melalui Video Teleconference (VTC) hingga koordinasi melalui jalur telepon.

"Kita sudah mulai sejak 8 hari lalu. Karena, teman-teman PTRI mesti menguriusi pasukan-pasukan Misi Perdamaian, misal di Afrika dan negara-negara di dunia. Karena, kita mesti memberi mereka mandat, administrasi, mesti mengamankan berbagai kegiatan dari badan PBB di seluruh dunia. Jadi, kita tidak bisa berdiam diri, jadi tetap bekerja meski berada di rumah," ungkap Dian Triansyah Djani ketika dikonfirmasi RRI melalui sambungan telepon, Rabu (23/3/2020).

Dian menambahkan koordinasi melalui Video Teleconference juga diterapkan dalam melakukan rapat maupun koordinasi bersama negara-negara anggota DK PBB.

"Jadi, PBB tetap hidup dan melaksanakan fungsinya dan kita juga PTRI tetap hidup. Caranya melalui VTC, whatsapp, telepon. Untuk keputusan juga kita buat melalui "internet base decising so far". Sekjen PBB juga instruksikan "virtual interview"," jelasnya.

Menariknya menurut Dian, dalam sehari koordinasi bersama para negara anggota DK PBB melalui VTC, dapat dilakukannya sebanyak tujuh kali.

"Rapat-rapat untuk menentukan keputusan malah makin banyak. Karena, misalnya kalau "meeting" di UN kita bisa ketemu banyak orang dan lobi-lobi kemana-mana, sekarang mungkin kita akan banyak VTC atau telepon. Jadi, kita telepon si A, si B, si C untuk capai keputusan  atau "light minded group" atau VTC ke kelompok-kelompok kecil sebelum kita lempar ke grup besar. Sehari mungkin saya bisa 7 kali VTC dan itu lebih seru," papar Dian lagi.

Meski belum ada pembahasan mengenai wabah virus Corona yang dikhawatirkan berdampak pada pelaksanaan Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) pada September mendatang, namun Dian Triansyah memastikan banyak agenda pertemuan di PBB lainnya yang harus segera diselesaikan.

"Belum sampai ke sana (UNGA), kita masih bahas "meeting-meeting" yang harus diselesaikan. Juni-Juli saja belum diprediksi. Di New York juga belum tahu sampai kapan harus WFH. Sekarang New York sudah sepi, tidak ada orang-orang yang melakukan kumpul-kumpul bergerombolan. Kecuali orang-orang yang belanja ke "groceries" tapi itu juga harus dekat-dekat," terangnya.

Di bagian lain Dian Triansyah menyebut secara khusus berbagai persiapan termasuk koordinasi dengan para WNI yang berdomisili di New York juga telah dilakukan, guna mengetahui langsung kondisi mereka selama adanya wabah COVID-19.

"Kita sudah siapkan logistik di masing-masing rumah bentuk RT-RT kecil untuk perbantuan. Karena wilayah New York inikan cakupannya luas ya, kita buat sistem informasi. Kita telah melaksanakan VTC bersama-sama Konjen di New York dengan WNI di New York dan sekitarnya. Kita ingin menenangkan WNI di New York bahwa kita bersama dalam menghadapi cobaan serius ini. Jika dibutuhkan kita siap," jelas Dian. (Foto : Dok.PTRI New York)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00