• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Opini

Ekonomi Mulai Bergerak di Shanghai dan Fenomena Klorokuin Obat COVID-19

26 March
09:00 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Seorang teman mengirimkan situasi terkini pada 22 Maret 2020, sebuah Mall di Kota Shanghai, Tiongkok, sudah ramai pengunjung dan pedagangnya sekaligus. 

Toko-toko sudah buka. Geliat ekonomi China sudah nampak, setelah memenangkan pertarungan hidup-mati melawan wabah Corona Virus Disease 2019 atau disingkat COVID-19 selama lebih kurang empat bulan.

"Geliat ekonomi Cina sudah mulai bergerak lagi, mesin-mesin ekonominya" demikian menurut si pengirim video amatir kepada RRI, Rabu (25/3/2020).

Nampak memang dalam video, kegiatan di Mall tersebut dimana warga kelihatan sudah mulai merasa aman sehingga kegiatan kembali normal seperti sebelumnya kala wabah Corona belum ada.

Kesembuhan masyarakat Cina dari Covid-19, ternyata membuat para pemimpin dunia menggeliat membicarakan obat bernama Chloroquine phosphate (klorokuin), yang diproduksi massal di Nantong City, Cina.

Para ahli di sana menyarankan itu dapat digunakan untuk mengobati pneumonia yang disebabkan oleh Covid-19. Apakah benar Tiongkok menggunakan obat tersebut untuk melawan Corona? Bisakah chloroquine benar-benar membantu merawat pasien coronavirus?

Presiden AS langsung 'nyinyir' mengklaim obat tersebut adalah palsu. Klaim oleh Donald Trump mengenai efektivitas melawan virus corona dari obat anti-malaria yang tidak diuji terhadap penyakit ini menjadi bola liar di AS. Kalau belum pernah dites ke manusia, jangan direkomendasikan, mungkin begitu maksud Trump.

Trump menyebut obat-obatan klorokuin dan hydroxychloroquine yang berpotensi sebagai "gamechangers" selama konferensi pers pekan lalu, yang mendorong sejumlah individu dan bahkan negara, termasuk Aljazair dan Indonesia, untuk memesan obat-obatan tersebut dalam jumlah besar. 

Sementara India, yang sekarang sedang manjalani lockdown total selama 21 hari ke depan, telah mengumumkan akan melarang ekspor obat. Artinya mereka memang sudah mempersiapkan obat-obatan jika memang kemungkinan terburuk bakal terjadi. Bisa jadi ada klorokuin di situ.

Chloroquine pertama kali dilihat oleh para peneliti selama wabah Sars 2002-2003. Seperti diketahui, Sars merupakan keluarga besar Coronavirus yang memiliki kesamaan substansial dengan Covid-19.

Sebuah penelitian di Virology Journal pada 2005 menemukan bahwa klorokuin menghambat virus Sars dalam sel primata setelah infeksi, serta menghambat infeksi sebelum pajanan, berhasil mengurangi apa yang disebut viral load yang menurut penelitian baru-baru ini mungkin merupakan prediktor kasus parah.

Idenya adalah bahwa klorokuin yang dapat memperlambat atau bahkan membunuh virus corona ini dapat menyelamatkan nyawa pasien yang sakit parah dan juga melindungi petugas kesehatan.

Ketertarikan pada klorokuin dan hidroksi klorokuin cukup serius sehingga Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mengidentifikasi mereka sebagai salah satu dari empat terapi potensial untuk dimasukkan dalam uji coba global bersama dengan tiga terapi obat potensial lainnya.

Ketertarikan pada klorokuin sebagai pengobatan untuk virus corona pada awalnya muncul setelah terbit surat dari para peneliti Cina ke jurnal BioScience Trends tahun ini yang menyatakan bahwa Cina memiliki "cara ampuh" dalam mengobati pneumonia yang disebabkan oleh Covid-19. Diduga kuat, klorokuin disinggung dalam surat tersebut sebagai obat yang dipergunakan.

Meskipun minat pada klorokuin sebagai pengobatan anti-virus sangat kuat, namun belum terbukti dalam uji coba terhadap manusia termasuk untuk virus lainnya seperti demam berdarah dan chikungunya.

“Para peneliti telah mencoba obat ini dari virus ke virus, dan itu tidak pernah berhasil pada manusia. Terlalu tinggi dosis yang dibutuhkan," kata Susanne Herold, seorang ahli infeksi paru-paru di Universitas Giessen kepada majalah Science, seperti dilansir The Guardian, Rabu (25/3/2020).

Namun, walaupun belum teruji kepada manusia, tapi klorokuin telah berhasil membuat beberapa negara untuk membelinya. Salah satu negara tersebut adalah Indonesia, dimana Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, ia mengimpor obat flu Avigan dan klorokuin.

"Telah terbukti menyembuhkan Covid-19 di negara lain, meskipun tidak ada yang menemukan antivirus Covid-19,” kata Jokowi seperti ditulis Jakarta Post, dan dikutip kembali oleh The Guardian, Rabu (25/3/2020).

Pengalaman negara lain, kata Presiden Jokowi, seperti dilansir The Guardian, menyarankan bahwa klorokuin dapat digunakan untuk membantu pasien pulih. Chloroquine hanya akan tersedia jika menggunakan resep dokter rumah sakit.

Sumber: Peter Beaumont & Rebecca Ratcliffe/TheGuardian
Sumber Video/Foto: Citizen Journalist at Shanghai & Xu CongJun/EPA/TheGuardian

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00