• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Pedoman Tata Cara Salat Bagi Tenaga Medis yang Tangani Corona

26 March
20:53 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Majelis Ulama Indonesia (MUI) mnegeluarkan fatwa tentang pedoman kaifiat (tata cara khusus) salat bagi tenaga medis yang memakai Alat Pelindung Diri (APD) saat merawat dan menangani pasien Covid-19. 

Dalam fatwa tersebut tertulis 11 ketentuan hukum yang berlaku dan telah ditetapkan sebagai fatwa. Ketua Komisi 
Fatwa MUI Hasanuddin AF mengatakan, tenaga kesehatan muslim yang bertugas merawat pasien COVID-19 menggunakan APD, tetap wajib melaksanakan salat fardhu 5 waktu. Jika sudah masuk waktu salat dan kondisinya sebelum waktu mereka bekerja, maka hendaknya menunaikan salat terlebih dulu. 

Selanjutnya, ketika tenaga medis bekerja dalam rentang waktu dua salat yang bisa dijamak (zuhur dan ashar serta maghrib dan isya’), maka mereka boleh melaksanakan salat dengan jama’.

Misalnya mereka mulai bertugas di waktu zuhur dan diperkirakan tidak dapat melaksanakan salat ashar, maka mereka dianjurkan untuk salat jama’ taqdim (di waktu zuhur). Begitu juga apabila mereka mulai bertugas di waktu maghrib dan diperkirakan tidak dapat melaksanakan salat isya’ (di waktu maghrib). 

“Dalam kondisi ia (petugas medis) bertugas mulai sebelum masuk waktu zuhur dan berakhir (kerja) masih di waktu salat ashar, maka ia boleh melakasanakan salat dengan jama’ ta’khir (di waktu ashar). Begitu juga dalam kondisi bekerja sebelum masuk waktu maghrib dan berakhir masih di waktu isya’ (di waktu isya’),” kata Hasanuddin dalam keterangan tertulis Fatwa MUI Nomor 17 Tahun 2020 tentang Pedoman Salat bagi Tenaga Kesehatan yang Memakai APD, Kamis (26/3/2020).

Kemudian, apabila saat bekerja berada dalam rentang waktu salat dan masih memiliki wudhu, maka dibolehkan melaksanakan salat dalam waktu yang ditentukan meski tetap memakai APD yang ada. 

Mereka juga dibolehkan tayamum jika sulit berwudhu saat melaksanakan salat. Poin berikutnya, dalam kondisi hadas dan tidak mungkin bersuci (wudhu dan tayamum) mereka tetap boleh salat dalam kondisi tidak suci dan tidak perlu mengulangi salatnya (i’adah). 

“Dalam kondisi APD yang dipakai terkena najis dan tidak memungkinkan untuk dilepas atau disucikan maka ia melaksanakan salat boleh dalam kondisi tidak suci dan mengulangi salat (i’adah) usai bertugas,” lanjutnya. 

Penanggung jawab bidang kesehatan wajib mengatur shift bagi tenaga kesehatan muslim yang bertugas dengan mempertimbangkan waktu salat agar dapat menjalankan kewajiban ibadah dan keselamatan diri. 

Terakhir, Hasanuddin menyatakan agar paramedis yang bertugas menangani COVID-19 menjadikan fatwa ini sebagai pedoman untuk melaksanakan salat.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00