• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Ada Benarnya Penyelenggaraan Sail Perlu Dievaluasi

4 December
09:08 2017
1 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla yang hadir pada acara puncak Sail Sabang 2017 akhir pekan lalu. Jusuf Kalla menggantikan Presiden Joko Widodo yang lebih memilih bertemu para Guru di Bekasi daripada ke Sabang.

Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyebut kegiatan Sail Sabang 2017 ini adalah yang terbesar. Kesemarakan memamg sudah disiapkan,  kendati terhalang dampak siklon Dahlia.

Namun di dalam sambutannya Sabtu Lalu, Wakil Preaiden Jusif Kalla justru meminta Menteri Pariwisata Arif Yahya untuk melakukan evaluasi atas penyelenggaran Sail-sail di Indonesia. Wakil Presiden Jusuf Kalla bisa jadi tidak merasa nyaman kemarin, sebab saat puncak acara, hujan deras sebagai dampak siklon Dahlia menerpa kawasan Sabang.

Bahkan kabarnya, dari semula seratus Yacht internasional yang akan merapat,  ternyata hanya sekitar 20-an.  Jauh dari target, padahal sebutannya sangat bagus.

Maksud evaluasi pasti baik. Hal yang perlu disoroti adalah pemberitaan dan informasi ke dunia internasional,  sebab kegiatan sail Ini melibatkan peserta asing. Sayangnya dari segi pemberitaan insternasionalpun, kegiatan Sail Sabang 2O17 sangat minim.

Media internasional semacam BBC, CNN, AlJazeera, dan sejumlah lainnya, bahkan minim memberitakan dalam versi internasionalnya. Padahal, target dari event Sail semacam ini adalah untuk promosi wisata ke manca negara.

Evaluasi sebenarnya bukan untuk Sail Sabang belaka. Akan tetapi untuk kegiatan sail secara keseluruhan. Pelaksanaan Sail Sabang merupakan yang ke-9. Kegiatan ini merupakan pengembangan Sail Darwin-Ambon. Sebelumnya pernah di Bunaken, Morotai,  Belitung, Tomini, Raja Empat  dan beberapa lokasi lainnya.

Evaluasi bukan berarti kegiatan Sail di Indonesia jelek, namun evaluasi menunjukkan bahwa perlu ada penyempurnaan lebih lanjut. Kegiatan Sail atau pelayaran di Indonesia perlu menunjukkan multiplier effect kepada masyarakat di tanah air secara kontinyu.

Sail Morotai sebagai contoh. Dulu saat penyelenggraan sangat semarak, akan tetapi sampai sekarang suasana di Morotai kembali landai-landai saja usai pelaksanaan Sail Morotai. Juga Sail Tomini. Tidak menunjukkan antusias masyarakat manca negara berkunjung ke Morotai atau Tomini atau Belitung, secara massif.

Ada baiknya, kegiatan sail semacam ini dikembalikan pada konsep awal kegiatan pelayaran Darwin Ambon. Sebab, dengan pelaksanaan yang kontinyu di satu tempat dan waktu penyelenggraan yang jelas, maka akan menjadi agenda yang akan dijadwalkan oleh wisatawan manca negara.

Sepetinya tidak imbang memang, antara sumberdaya dan anggaran pemerintah yang dikerahkan untuk kegiatan sail, semacam sail sabang,  dengan outcome hasil secara kontinyu. Kegiatan Sail-sail sampai saat ini masih sebatas pada kesuksesan output dan belum pada outcome,  benefit dan impactnya.

Karena itu sesegara mungkin pelaksanaan Sail Sabang di Evaluasi dan disenpurnakan formatnya. Dengan penyenpurnaan tersebut harapannya, sumberdaya dan anggaran yang dikerahkan lebih kecil, namun hasilnya optimal.

Kedepan, outcome atau hasil yang diperoleh dapat bersifat kontinyu. Saatnya pemerintah merubah konsep berlikir dan konsep kerjanya, dari sekedar bicara output menjadi outcome. Masih dalam kaitannya dengan Sail Sabang, semoga menjadi catata. Tersendiri Bagi warga Aceh. (WK/ARN)

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00