• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Kontestan Pilkada 2018 dari Tokoh-Tokoh Nasional serta Para Jenderal TNI dan Polri

8 January
10:59 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Pernahkah membaca novel Paulu Gulgung ?                 
Sang pemenang berdiri sendirian. Salah satu di novel itu mengatakan, cerminan dunia kita saat ini, dimana kekuasaan, kemewahan dan sukses menjadi yang paling utama, sehingga kita seringkali menulikan telinga dari suara hati kita.


Tidak ingin mengatakan bahwa semua calon kepala daerah, gubernur, bupati atau walikota yang ramai-ramai bertarung, berarti tengah menulikan suara hati untuk mengejar kekuasaan. Tentu ada yang murni karena panggilan jiwa, ingin membangun daerahnya, karena ingin mensejahterakan masyarakatnya.

Paling tidak bolehlah kita merenung fenomena yang sebenarnya bukanlah terlalu baru, yang kembali terulang di negeri ini.

Hampir semua profesi mulai dari PNS, Pengusaha, Politisi, guru-guru, artis, anggota KPU sampai anggota TNI dan Polri, menyatakan diri bertarung dalam pemilihan kepala daerah.

Yang paling ramai isunya, tentu saja kabar sejumlah jenderal TN dan Polri,  dengan diusung partai politik, masuk bursa kepala daerah. Diantaranya Panglima Kostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi, yang kabarnya akan dipromosikan menjadi Kasad Jenderal bintang empat, tetapi memilih pensiun, untuk bisa maju menjadi calon gubernur Sumatera Utara. Dari kepolisian ada nama Kapolda Jawa Barat  Irjen Pol Anton Charliyan dan Kapolda Kalimantan Timur. Mereka mundur demi pilkada.

Majunya Jenderal ini, tentu menuai reaksi. Ada yang menganggap biasa di alam demokrasi. Sebagian mendukung, sebagian menolak. Ada yang hanya sekedar bertanya-tanya. Tetapi ada juga yang kritik. Pengamat Politik dari LIPI, Siti Zuhro misalnya menganggap ini sebagai tanda partai gagal melakukan kaderisasi, sampai menunjuk jenderal aktif, yang mempunyai jiwa kepemimpinan dan jaringan.

Yang mengkhawatirkan dari fenomena masuknya jenderal gelanggang ini,  jika tidak jelas rekruitmennya, bisa jadi atau jangan-jangan sudah terjadi, partai hanya menjadi penyedia kendaraan politik yang mahal untuk meraih kekuasaan.  Kalau ini yang terjadi, kesan mengambil jalan pintas bisa jadi sekaligus menyesatkan. 

Sekali lagi fenomena ini bukanlah baru. Pada jalan Orde Baru tentara aktif menjadi kepala daerah sangatlah biasa. Di Sumatera Utara misalnya, Mayjen Raja Inal Siregar yang waktu itu menjabat Panglima Komando Daerah Militer Siliwangi dicalonkan menjadi gubernur Sumatera Utara.

Yang agak tidak biasa jika sorang menteri, mengajukan diri sebagai kepala daerah.  Bukankah jabatan menteri lebih sulit dan didapat daripada kepala daerah ? Menteri adalah hak prerogratif Presiden. Sehebat, seterkenal, sepintar apapun seseorang, jika tidak dipilih Presiden tidak bisa menjadi menteri.

Berbeda dengan kepala daerah. Kepala daerah dipilih atas hak prerogratif masyarakat, dan seringkali suara rakyat itu, sayangnya bisa didapat asal bermodal kuat.

Jadi ketika Menteri Sosial Hofifah Indar Parawangsa dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Jawa Timur, banyak yang menanyakan. Apa sebenarnya yang memotivasinya. Apakah  untuk memenuhi obsesinya karena dua kali kalah dalam pertarungan yang sama di Jawa Timur ? atau entah lah.

Tetapi ada satu  cerita yang mungkin jadi pelajaran  penting untuk kita semua, termasuk para calon kepala daerah di dua latar belakang tadi, petinggi TNI dan Kepolisian serta pejabat negera setingkat menteri.

Dua jabatan tersebut pernah disandang Ali Sadikin. Ya Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta tempo Doeloe. Ali Sadikin berasal dari kemiliteran, pangkat terakhirnya Letjen TNI KKO dan di ranah pemerintahan pernah menjadi Menteri Perhubungan Laut dan Menteri Koordinator Maritim.

Bedanya pada masa itu, yang tidak mencalonkan diri menjadi gubernur. Tetapi diminta oleh Presiden Soekarno. Sosok yang kata Soekarno ini kopah atau keras kepala ini, terbilang berhasil dalam kariernya sebagai kepala daerah.

Tahun ini kita memulai memasuki tahapan pilkada serentak.  Semoga saja, siapa saja, yang menjadi kepala daerah berakhir dengan cerita sukses. Memajukan daerahnya dan mensejahterakan rakyatnya, serta tidak menulikan suara hati. (SY/ARN)

Tentang Penulis

Soleman Yusuf

<p>Lahir di Jayapura. Pendidikan Terakhir : Pasca Sarjana Universitas Pancasila Jakarta (2000).</p><p>Riwayat Pekerjaan : Kepala Bidang Program Produksi Pemberitaan (2011), Kepala RRI Madiun (2012 - 2013 ), Kepala RRI Bengkulu (2013 - 2014 ), Kepala RRIBanjarmasin (2014 - 2016 ), Direktur Program Dan Produksi LPP RRI (2016 )</p><p></p>

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00