• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Quo Vadis Musik Ke-Indonesiaan

9 March
08:53 2018
1 Votes (5)

Sejak beberapa tahun terakhir ini, Badan Ekonomi Kreatif mengumpulkan musik musik lama yang tersimpan disejumlah lembaga penyiaran dan kolektor untuk di dokumentasikan lebih baik ke dalam bentuk digital. Seiring dengan itu tanggal 29 Oktober 2017 dicanangkan Ambon Menuju Kota Musik Dunia.

Ada rasa bangga tatkala nantinya pencanangan itu menjadi kenyataan, yang artinya musik Indonesia akan lebih dikenal di dunia sesuai standart yang ditetapkan Unesco. Apalagi, sejumlah artis, penyanyi dan musisi Indonesia sudah go internasional mewarnai musik dunia. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan musik Indonesia di negeri sendiri di Hari Musik Nasional, hari ini. 

Perkembangan music di Indonesia dengan berbagai genre patut diakui mewarnai blantika musik di tanah air, jenis jenis musik tertentu seperti dangdut, bahkan merambah dan membumi di seluruh pelosok nusantara dengan lagu lagu yang selalu baru, tetapi jenis musik ska dan beberapa lainnya nampaknya tidak bertahan melegenda seperti Koes Plus, apalagi musik daerah yang tidak membahana di seluruh pelosok negeri ini.

Cukup menarik, apa yang dikatakan Kepala Badan Ekonomi Kreatif – Triawan Munaf, bahwa ada lima pilar di dalam pembangunan musik yakni infrastruktur, musisi dan komunitas, proses belajar, pengembangan industri dan nilai sosial budaya.
 
"Kelima pilar ini merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan sehingga harus diwujudkan dengan tekad dan komitmen bersama oleh pemerintah daerah, stake holder terkait dan masyarakat,”

Dari sisi masyarakat, meski disebut terakhir bersama stakeholder, tetapi ini sangat menentukan perkembangan musik di tanah air.

Banyak industri musik dan musisi bersusah payah melahirkan album lagu dan musik baru, tetapi dipasaran lebih banyak beredar CD bajakan, dan itu yang dibeli masyarakat .Di satu sisi musiknya berkembang dan membahana, di satu sisi pemasukan hasil produksi dikeluhkan. Padahal musik sudah menjadi bagian dari kehidupan msyarakat.

Pengembangan industri musik dan nilai social budaya, harus diakui ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah yang harus digarap oleh semua element pemerintah, stake holder, musisi dan masyarakat, untuk menjadikan masyarakat Indonesia mengenal ke Indonesiaan musik di tanah airnya sendiri. 

Memang tidak semua musik daerah diterima disemua daerah, perlu seleksi seperti halnya standarisasi yang dilakukan Unesco, sehingga enak didengar dan mudah dilafal. Lagu daerah Angin Mamiri, Ampar Ampar Pisang, Apuse dan masih banyak yang lainnya, kiranya perlu digemakan di seluruh tanah air, melalui lembaga lembaga penyiaran yang ada di negeri ini.

Pro4 RRI mengambil tag line  ensiklopedia budaya ke Indonesiaan, kiranya dapat menjadi contoh kembali kita menggemakan lagu dan musik daerah agar membahana di bumi persada nusantara. 

Semoga Hari Musik Nasional membawa perpaduan alunan musik daerah menjadi bagian musik nasional dan internasional yang mengumandang di setiap ruang masyarakat.

(Sumber Foto: Haho)

Tentang Penulis

Agung Susatyo

Redaktur Senior RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00