• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Belajar 'Lockdown' dari Wuhan

21 March
07:55 2020
3 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Kalau tidak ada kasus COVID-19 baru dalam 14 hari ke depan, maka lockdown Wuhan akan dicabut. Demikian ramai headline berbagai media mengabarkan.

Sampai kemarin, hari Jumat, 20 Maret 2020, dinyatakan tidak ada temuan kasus COVID-19 baru. Jalur keluar-masuk Wuhan ditutup alias lockdown sejak 23 Januari 2020. Transportasi darat, udara, laut tidak ada yang bisa masuk maupun keluar dari Wuhan. Semata dilakukan untuk melokalisir virus yang belum ditemukan obatnya ini: virus corona baru atau COVID-19.

Walaupun belum dicabut secara resmi, kondisi Wuhan tidak lagi seperti awal penetapan masa lockdown dulu, yang seperti kota mati. Sebagian petugas kesehatan yang tadinya didatangkan ke Wuhan, sudah dikembalikan ke daerahnya masing-masing, walaupun sebagian masih berjaga-jaga. Masyarakat sudah bisa keluar rumah. Wuhan tinggal menghitung hari menuju pembebasannya menjadi kota yang terbuka. Sebagian warga Wuhan menyebut mereka sudah menang melawan corona baru!

Namun, sebaran virus COVID-19 ini membuat beberapa negara baru mulai terpaksa meniru langkah melokalisir sebaran virus dengan melakukan lockdown seperti yang dilakukan di Wuhan ini. Italia, Prancis dan mungkin akan diikuti negara-negara Eropa lainnya. Malaysia, Filipina, dan bisa jadi negara-negara Asia lainnya, adalah jajaran negara yang melakukan lockdown.

Sukseskah mereka melakukannya seperti Wuhan? Agaknya keberhasilan kebijakan lockdown akan sangat tergantung pada kegigihan dan keyakinan pemerintah melakukannya, serta kepatuhan masyarakat menjalankan prosedur lockdown secara serempak. Mungkin ini yang bisa menjelaskan, mengapa pasca ditetapkan lockdown jumlah sebaran virus COVID-19 di Milan, Italia, justru meningkat. Kabarnya, masyarakat di sana justru mengambil kesempatan untuk berlibur, sehingga sebaran virus malah meluas. Berbeda dengan Wuhan, yang masyarakatnya patuh mengisolir diri, tidak keluar rumah sama sekali kecuali untuk berbelanja dan keperluan medis.

Kebijakan meliburkan semua aktifitas membuat Wuhan waktu di awal lockdown menjadi seperti Kota hantu. Hanya teriakan saling memberi semangat dari apartemen warga yang mewarnai malam-malam mereka yang sepi. Belum lagi inovasi pembangunan RS darurat yang dilakukan hanya dalam hitungan hari, serta para tenaga medis yang berjibaku tanpa henti, pantaslah menjadi pertanyaan tiap negara, apakah bisa meniru Wuhan, Tiongkok, dalam hal ini? 

Lockdown akhirnya bukan sebuah kebijakan semata, tapi cermin dari etos, kesungguhan dan karakter warga sebuah negara.

Ditulis Oleh   :   Weny Aulia

Tentang Penulis

Heri Firmansyah

Redaktur RRI-Online

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00