• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Tanaman Surga pun Bisa Ditanam Di Pulau Bintan Yang Tandus

18 January
22:29 2016
1 Votes (5)

Tanaman Surga pun Bisa Ditanam Di Pulau Bintan Yang Tandus

KBRN, Tanjungpinang: Realita yang terjadi di pulau Bintan, provinsi Kepulauan Riau, memang sudah banyak lahan yang berubah tandus dan kritis akibat aktivitas pertambangan bauksit yang berlangsung selama bertahun-tahun. Di lahan-lahan eks tambang bauksit tersebut tidak dilakukan penghijauan kembali (reboisasi) dan penanaman kembali (revegetasi) dengan tanaman produktif.

Banyak pihak yang meragukan bahkan menganggap sebuah kemustahilan jika lahan bekas tambang bauksit yang gersang dan cenderung berbatu tersebut bisa ditanami. Terlebih lagi tanaman pangan. Anggapan tersebut bisa dimengerti mengingat selama ini sejumlah upaya pemda dan perusahaan untuk menanaminya tak kunjung berhasil. 

Itu dulu. Alasan itu sudah usang, klise, kuno, atau apalah istilahnya. Kini tidak ada alasan lagi, karena sejatinya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kecuali bagi manusia yang berfikir dan punya kemauan. Demikian dikemukakan Sekretaris Gapensi Kota Tanjungpinang, yang juga Ketua Bidang Litbang AISKI (Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia), Ady Indra Pawennari, kepada RRI.

"Nyatanya saya bisa menepis ketidakmungkinan itu. Kami di AISKI sudah membuktikannya. Dengan kemauan, kerja keras dan ikhtiar tiada henti semuanya bisa," ungkap Ady, sambil menunjukkan lahan eks tambang bauksit seluas 1 hektar di Tanjungpinang yang berhasil ditanaminya pohon sengon, Senin (18/01/2016).

Dalam waktu 1 tahun 2 bulan, pohon sengon yang ditanami Ady sudah tumbuh subur dengan tinggi 5 meter, berdiameter lebih kurang 15 centimeter. Tidak hanya sudah tinggi menjulang, sengon juga tumbuh dengan kulit pohon yang segar dan daun hijau yang rimbun karena tercukupi kebutuhan airnya, meskipun dalam kondisi kemarau sekalipun.

"Saya hanya pakai coco peat atau serbuk sabut kelapa yang selama ini dibuang sia-sia oleh petani kelapa. Sejak saya tanam mulai dari biji sengon sampai sekarang saya biarkan. Saya pun tak pernah merawatnya. Sampai rumputnya setinggi orang dewasa. Sederhana saja, tanah ini menjadi sangat subur dengan sentuhan teknologi sabut kelapa," bebernya.

Dari pantauan RRI di lokasi, jika dibandingkan antara lahan 1 hektar yang ditanami sengon tersebut dengan lahan gersang eks bauksit disekelilingnya memang terlihat cukup kontras. Lahan yang ditanami dengan menyampurkan tanah bauksit dan coco peat terlihat sangat subur, basah dan gembur. Padahal saat itu tengah hari dan cukup terik. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, tepatnya sejak November 2014 lalu, tanah satu kapling tersebut sudah boleh dikatakan seperti hutan sengon.

"Coco peat ini mampu meyimpan air 300 persen dari berat bobot coco peat-nya sendiri. Makanya aman meski kemarau. Sengon ini Insya'Allah 4 sampai 5 tahun sudah bisa dipanen," katanya lagi.

Tidak cukup sampai disitu Ady kemudian juga mengajak melihat langsung lahan di halaman kantor Gapensi Tanjungpinang seluas beberapa ratus meter persegi yang ditanami kakao atau coklat, pepaya bangkok, pisang kapendis, dan pisang berangan merah yang biasa dijual di supermarket. Semuanya tumbuh subur. Bahkan yang tidak kalah menakjubkan lagi, di lahan yang sama juga tumbuh subur tanaman yang buahnya disebut-sebut dalam Al-Quran sebagai buah surga, yakni buah tin.

"Tanaman ini biasa disebut green jourdan yang tumbuh di negara timur tengah. Kan dalam Al-Quran disebut-sebut nama buahnya, malah ada suratnya tersendiri, At-Tin. Inilah tanaman surga itu, alhamdulillah bisa tumbuh dengan media tanam coco peat," lanjutnya sumringah, sambil menunjukkan tanaman Tin yang sudah berbuah.

Ady Indra Pawennari, yang belum lama ini dinobatkan sebagai Pahlawan Untuk Indonesia bidang Inovasi Teknologi oleh MNC Media menegaskan bahwa pemda di Kepri baik kabupaten/kota maupun provinsi seharusnya mengeluarkan kebijakan untuk ketahanan pangan dengan memberdayakan petani setempat dan lahan yang ada.

"Tidak ada alasan lagi mempermasalahkan lahan tandus karena sekarang sudah ada teknologinya. Kita sangat bisa dan besar berkemungkinan mampu berswasembada pangan. Tidak perlu lagi bergantung kepada luar daerah atau luar negeri, kalau kita ada kemauan."pungkas Ady Indra Pawennari.(gus)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00