• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Lestarikan Adat Dan Budaya, LAM Sosialisasi Pengatur Adat di Lingga

8 December
16:28 2019
0 Votes (0)

KBRN, Tanjungpinang; Berupaya meningkat pengetahuan dan pemahaman seluruh pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM). LAM Kepri Kabupaten Lingga mengadakan sosialisasi pengatur adat. Bermula dari semangat, kita ingin menjaga adat dengan terus sambil belajar dan berfaham. Pengurus LAM Kabupaten bukanlah pandai semua, tapi ingin memggali ilmu bersama. Kita sudah mendatangkan para ahli baik dari dalam maupun luar negera.

"Saling mengisi dan memberi. LAM punya niat dan ikhtiar untuk terus komit membuat program yang bersentuhan lansung dengan pelestarian adat dan budaya Melayu,"ungkap Datok Sri H.M.Ishak, Minggu(8/12/2019) di Balai LAM Kepri Kabupaten Lingga

"Kami terus mendorong agar Kades/Lurah, Camat untuk ikut bersama-sama mendorong terbentuknya LAM. Kami sudah bersurat melalui matlamat kepada Bupati untuk menguatkan agar Lurah/Kades,Camat ikut mempercepat agar LAM segera terbentuk,"harap Datok Sri H.M.Ishak,MM.

Pada acara pembukaan, Datok Sri sengaja memakai baju kurung teluk belange. Beliau ingin menunjukkan agar kedepan masyarakat Lingga bersemangat memakai baju teluk belange.

"LAM akan memberikan rekomendasi agar Pemkab Lingga mengeluarkan edaran agar seluruh PNS memakai baju kurung teluk belange di hari Jumat, kecuali pada acara adat dan budaya,"tambahnya.

Beliau menjelaskan, ide kegiatan pelatihan pengatur adat ini berawal dari diskusi panjang temuan-temuan di lapangan. Saat menjelang akad nikah, ternyata ada syarat hantaran yang kurang. Tentu hal ini membuat kacau acara. Apalagi kalau kejadian ini disaksikan oleh orang yang ingin sekali melihat bagaimana adat Melayu.

"Saya akan berkomunikasi dengan Kepala Desa agar setiap desa kedepan mempunyai peterakne sendiri. Sehingga pada acara akad nikah masyarakat kita yang kurang mampu dapat terbantu. Artinya, LAM bukan membuat saingan usaha wedding organiser, tetapi ingin membantu bagi keluarga yang kurang mampu,"jelasnya.

"Bagi mereka yang mampu disilahkan. Kita hanya ingin tepuk tepung tawar dilakukan di depan peterakne, bukan di pelaminan modern. Kita berusaha kearah situ. Sekali lagi, silahkan bagi yang ingin pesta silahkan pakai peterakne dan pelaminan modern,"katanya.

"Saya berharap adat dan budaya ini betul-betul terjaga dan berkembang di kampung kita. Jangan hanya saat nikah orang ingat dengan Kades dan KUA, tetapi pengatur adat yaitu orang LAM desa juga dilibatkan. Syaratnya, tentu pengurus LAM yang mengerti dan faham adat, makanya pengurus LAM harus terus meningkatkan kapasitas keilmuannya dalam adat dan budaya,"pesan Datok Sri.

Sosialisasi pengatur adat dipandu langsung oleh Datok H.Nadar dan Datok Lazuardy Oesman. Peserta yang hadir berasal dari LAM Kecamatan dan LAM desa yang sudah terbentuk. (RB)

  • Tentang Penulis

    RISFAN BADRIAN

    Bahagia bukan milik dia yg hebat dalam segalanya, namun dia yg mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.

  • Tentang Editor

    RISFAN BADRIAN

    Bahagia bukan milik dia yg hebat dalam segalanya, namun dia yg mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00