• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

BKIPM KPP Dan Avsec Cegah Pengiriman Akar Bahar Melalui Bandara RHF

25 January
20:08 2020
0 Votes (0)

KBRN, Tanjungpinang; Petugas Aviation Security (AVSEC) Bandara RHF bersama Petugas Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Wilayah Kerja Bandara RHF Tanjungpinang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tanjungpinang  berhasil melakukan penegahan terhadap upaya pengiriman akar bahar (Black Coral) yang sedianya akan dikirim dari Tanjungpinang ke Purbalingga melalui Bandara Raja Haji Fisabilillah, Sabtu, (25/01/2020).

Kepala Balai KIPM Tanjungpinang Ir. Felix Lumban Tobing, S.Pi, MP melalui Kasie Wasdalin Arrofik menyampaikan, Pada hari sabtu tanggal 25 Januari 2020 telah dilakukan upaya penegahan terhadap upaya pengeluaran 2.2 Kg (75 Pcs) akar bahar kering melalui jasa pengiriman JNE yang dilulintaskan melalui Bandara RHF Tanjungpinang dan sedianya akan dibawa menggunakan pesawat LION (JT 621) dengan tujuan akhir Purbalingga Propinsi Jawa Tengah dengan taksiran nilai ekonomis  1.5 juta.  

"akar bahar ini mau dikirim ke purbalingga melalui bandara RHF Tanjungpinang, " Kata Arrofik kepada reporter RRI. 


Arrofik menerangkan, kronologis penegahan pada saat pemeriksaan terhadap barang muatan kargo petugas AVSEC mendeteksi melalui mesin X-ray, penampakan kayu yang mencurigakan, dan setelah dikomunikasikan dengan petugas Karantina Ikan yang bertugas terkonfirmasi bahwa barang tersebut adalah termasuk akar bahar yang dilindungi penuh oleh Undang-Undang, kemudian dilakukan penahanan terhadap Media Pembawa Tersebut oleh petugas Karantina Ikan.

"Awalnya petugas avsec mendeteksi melalui mesin x-ray terlihat kayu yang mencurigakan setelah di konfirmasi petugas karantina diketahui barang tersebut termasuk akar bahar yang di lindungi, "terangnya

Lebih lanjut disampaikan, upaya pengiriman akar bahar ini melanggar ketentuan UU No. 21 Tahun 2019 Tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, UU No 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dalam UU no. 45 Tahun 2009, UU No 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, PP No. 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dengan ancaman pidana paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) 

"Akar bahar tersebut sekarang telah diamankan oleh Petugas Karantina dan untuk pemilik barang akan segera dicari keberadaannya untuk dilakukan penyelidikan dan pengembangan kasus," Lanjutnya

BIKPM juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan eksploitasi terhadap satwa yang dilindungi karena akan berdampak buruk terhadap ekosistem dan sumberdaya ikan secara umum biarpun memiliki nilai ekonomis penting karena sudah ada regulasi terhadap eksploitasi dan pemanfaatan satwa liar. 

"Kita mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan eksploitasi terhadap satwa yang dilindungi,"pungkas Arrofik (RB)
 

  • Tentang Penulis

    RISFAN BADRIAN

    Bahagia bukan milik dia yg hebat dalam segalanya, namun dia yg mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.

  • Tentang Editor

    RISFAN BADRIAN

    Bahagia bukan milik dia yg hebat dalam segalanya, namun dia yg mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00