• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Reaksi Cepat Bupati Wanimbo Hadapi Info KLB Kematian Anak

1 November
07:31 2019
0 Votes (0)

KBRN-Karubaga. :  Menanggapi  pemberitaan yang beredar di media sosial melalui salah satu akun pribadi seorang intelektual anak Tolikara berinisial WW  dimana Informasi tersebut telah di unggah di Facebook menyatakan Kejadian Luar Biasa KLB dengan kematian anak kecil berturut – turut di Distrik Kembu Kab. Tolikara Papua beberapa pekan lalu ternyata di pantau juga oleh Bupati Tolikara Usman G.Wanimbo,SE,M.Si.

Setelah melihat informasi yang mengagetkan ini Bupati Tolikara Usman G.Wanimbo,SE.M.Si lansung bertindak dengan menerjunkan tim yang dipimpin Asisten I Sekda Tolikara Drs Panus Kogoya didampingi Kepala Dinas Kesehatan Tolikara Elsen genonga diwakili Sekretaris Yusak Totok krido dan Sekretaris Satpol PP Tolikara Wemban kogoya menemui para dokter dan tenaga kesehatan lain di Puskesmas Kembu. Selain itu tim juga menemui para Pendeta Jemaat GIDI di wilayah Kembu guna mengecek langsung kebenaran Informasi KLB tersebut senin,28/10/2019 pekan lalu yang ternyata informasi itu tidak jelas sumbernya. 

Hal tersebut dikatakan Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo,SE,M.Si di kediamannya usai menerima laporan Tim yang turun mengecek kebenaran di distrik Kembu selasa, 29 /10/2019 kemarin.

“Hari Sabtu yang lalu saya melihat di facebook disalah satu akun milik seorang intelektual asal distrik kembu berinisial WW menyatakan kejadian luar biasa KLB dimana ada anak – anak meninggal , sehingga saya memerintahkan asisten I untuk turun mengecek langsung di lapangan karena berita KLB adalah masalah sensitive dibidang kesehatan”. Tegas Bupati Usman wanimbo. 

Menurut Bupati Usman G.Wanimbo,SE,M.Si Istilah KLB sering digunakan Indonesia sebagai akibat timbulnya atau meningkatnya peristiwa kematian manusia berturut – turut dalam kurun waktu tertentu. Suatu kejadian dinyatakan Luar Biasa jika ada unsur, timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada,dan meningkatnya kematian manusia terus – menerus dengan jumlah penderita baru meningkat dibanding dengan jumlah rata – rata perbulan sebelumnya. Kami menyambut baik adanya informasi dan kritikan dari kaum intelektual Tolikara melalui berbangai media,namun  informasi atau kritik dan saran yang disampaikan harus proporsional dan seimbang. Apa bila menyampaikan informasi Kejadian Luar Biasa diistilahkan KLB ini sepatutnya dengan data yang akurat misalnya penyakit apa, jam, hari, bulan dan tahun tentu bekerjasama dengan dokter atau para medis yang betugas di daerah,sehingga sebuah informasi itu bisa dipertanggungjawabkan. 

“Tim kami yang turun di kembu telah mempertemukan penyebar informasi melalui  akun pribadinya di FaceBook berinisial WW dengan para dokter dan tenaga medis bahkan para pendeta Gereja wilayah kembu namun para dokter tidak pernah koordinasi dengan WW sehingga informasi yang disampaikan itu tidak benar”. beber Bupati Usman wanimbo.

Bupati Usman G.Wanimbo berkomitmen akan menerjunkan tim lebih besar lengkap dengan tenaga medis tambahan dari Karubaga untuk menyisir rumah – rumah warga Kembu,guna memastikan apakah ada masyarakat kembu menderita sakit atau tidak. 

Sementara itu dokter Richard beteg yang juga kepala Puskesmas Kembu mengakui menurut data.  Empat bulan terakhir ini, Pasien mendatangi Puskesmas kembu untuk berobat tidak meningkat saat ini dilayani seperti biasanya. Pasien berobat rata – rata sakit batuk berdahak terdapat juga biji – biji di tengorokan,kondisi ini dialami masyarakat kembu karena perubahan cuaca selain itu kebiasaan masyarakat hidup di honai membuat tungku api di tengah honai tanpa ventilasi atau jendela rumah untuk asap. Kondisi ini membuat masyarakat di pengunungan lebih akrab dengan penyakit ISPA (Inpeksi Saluran Pernapasan Akut).
“kami dengar kabar satu pasien anak meninggal di rumah keluarga, pasien ini di antar orang tua setelah kondisi kesehatan sudah memburuk, pertolongan intensif kami sudah lakukan namun tidak tertolog sehingga pasien anak kecil ini meninggal”. Ujar dokter Richard beteng.

Dikatakannya sebenarnya  tidak ada bayi yang meninggal secara berturut-turut, apabila ada tentu para pendeta dari Gereja melaporkan kepada kepala distrik untuk diteruskan kepada petugas kesehatan di puskesmas bahkan kepada Bupati melalui bawahannya. Namun hingga kini kondisi kesehatan masyarakat kembu pada umumnya masih baik sesuai data pengobatan di Puskesmas kembu. 

”kami minta kerjasama dari aparat kampung dan juga masyarakat di Distrik kembu jika ada kedapatan pasien yang sakit segeralah dibawa ke Puskesmas agar mendapat perawatan intensif dari Puskesmas”.  Himbu Dokter Richard beteg.

Salah satu tokoh Agama Gereja GIDI wilayah Kembu Pendeta Nayus Wenda mengapresiasi petugas medis yang setia melayani masyarakat di Puskesmas Kembu dalam waktu 24 jam bahkan hingga larut malam. Walaupun beberapa pekan lalu terjadi peristiwa kerusuhan di kota wamena dan beberapa kota besar lainnya di Papua membuat warga pendatang mengungsi ke luar dari pengunungan,namun para medis dan para guru sekolah yang bertugas di kembu tidak ada yang mengungsi. Karena itu kami warga kembu salut para petugas yang datang melayani masyarakat di kembu dengan hati. 

“beberapa hari lalu memang ada salah satu pasien anak kecil sempat di rawat di rumah sakit tetapi tidak tertolong karena saat berobat kondisi kesehatan sudah memburuk akibat kelalaian orang tua lambat antar ke puskesmas”. Kata Pendeta Nayus wenda.

Dikatakan beberapa bulan lalu sejak bulan Juni hingga bulan Oktober orang sakit batuk meningkat,dan beberapa bulan terakhir ini ada anak – anak kecil meninggal juga tetapi waktunya tidak berturut – turut.

“ada kejadian baji meningal beselang 1 hari situasi ini membuat kami sempat panik namun hingga kini kondisi kesehatan masyarakat kembu pada umumnya Puji Tuhan kami patut bersyukur masih sehat”. himbuNya.

hal senada juga di sampaikan salah satu kepala suku di tempat yang sama ia bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa karena petugas kesehatan hingga kini setia melayani masyarakat,walau terjadi kerusuhan dimana – mana membuat warga pendatang lain harus mengungsi sebuah bukti bahwa para tenaga medis dikembu melayani dengan hati. 

“memang Puskesmas di Kembu ini tidak pernah tutup pintu melayani masyarakat yang datang untuk berobat meskipun mereka datang pada malam haripun masih tetap diberi pelayanan”. beberNya.

Penyebar informasi Hoax melalui media sosial berinisial WW usai dikonfirmasi saat tim tinjau pelayanan kesehatan di Puskesmas kembu mengakui ia menyebarkan informasi itu karena kesal dengan kondisi kesehatan masyarakat rata – rata sakit batuk. Mereka berobat di puskemas kembu dilakukan pemeriksaan dan pengobatan namun hasil pengobatan tidak pernah ada perubahan,dan tidak sembuh dengan cepat.

”saya melihat masyarakat mayoritas menderita sakit batuk,mereka berobatpun tak kunjung sembuh apaka dokter salah kasi obat atau kenapa mesti cari tahu” kata Ww. (Diskominfo Tolikara)*

   

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00