Sarasehan Pendataan Keluarga di Cimahi Tahun 2021

Plt Walikota Cimahi Ngatiyana saat buka sarasehan pendataan keluarga 2021 (Foto:Amelia Hastuti/RRI)
Kepala Perwakilan BKKBN Wahidin, pada acara sarasehan pendataan keluarga di Cimahi (Foto:Amelia Hastuti/RRI)

KBRN, Cimahi : Pendataan keluarga di Jawa Barat sudah dilakukan, sehingga hasilnya harus disosialisasikan kepada stake holder di masyarakat sehingga mereka mengetahui data-data apa yang sudah  didapatkan. 

"Pendataan keluarga itu sangat penting dilakukan untuk memperoleh data akurat tentang keluarga, yang dapat digunakan dalam pelaksanaan program pembangunan keluarga baik di daerah maupun secara nasional,"  ungkap Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Wahidin kepada wartawan, Kamis (23/9/2021).

Ditemui usai menjadi pembicara pada kegiatan sarasehan hasil pendataan keluarga, yang berlangsung di Aula Gedung Pemkot Cimahi, jalan Raden Demang Hardjakusumah, Cibabat siang tadi, Wahidin menyebutkan, dari pendataan penduduk itu, diketahui kota Cimahi merupakan kota berpenduduk terpadat kedua di  Provinsi Jawa Barat setelah kota Bandung. 

"Cimahi walaupun hanya 3 kecamatan ternyata penduduknya berjumlah lebih dari  600.000 orang. Sepertinya angkanya kecil,  kalau diluar pulau Jawa  angkanya bisa penduduk di tiga kabupaten dan pastinya  problemnya juga lebih banyak," ujarnya.

Menurut Wahidin, kalau dilihat dari indikatornya, banyaknya jumlah penduduk di kota Cimahi tersebut antara lain kerena  faktor migrasi yaitu penduduk yang masuk dan keluar karena Cimahi merupakan kota tujuan masyarakat urban.

Bila dilihat dari hasil pendataan KK   ada sekitar 2 ribu Kepala keluarga yang berkurang dalam tahun 2021 di Kota Cimahi.

"Berkurangnya itu diduga memang bisa terjadi,  karena pulang kampung pada saat  pandemi Covid-19 yang diakibatkan  PHK atau adanya  pembatasan karyawan di perusahaan.l," imbuhnya.

Pelaksana tugas Walikota Cimahi Ngatiyana mengatakan, pendataan penduduk yang dilakukan di kota Cimahi tahun 2021 sudah berlangsung dengan hasil pendataan sebanyak 536.000  orang dengan berbasis Kartu Keluarga.

"Jumlah tersebut mengalami perubahan jika dibanding dengan tahun 2019 karena di tahun 2021 ini menurun menjadi 534.000 orang yang disinyalir pindah alamat atau kembali ke daerah asalnya," jelasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00