Merubah Paradigma Tentang Sampah

sampah_terpilah_di_kelola_bank_sampah.jpg

KBRN, Banjarmasin - Wacana tentang sampah masih seputar kemana membuang sampah, membangun tempat pembuangan sampah sementara atau TPS,  bagaimana mengangkut sampah, siapa mengangkut sampah,  tentu merupakan wacana lama ketika bicara sampah.

Perbincangan seperti itu terjadi di kalangan elit, misal saat debat pasangan calon walikota dan dan wakil walikota, yang mengemuka adalah ah soal tempat pembuangan sampah sementara bagaimana memindahkan tempat pembuangan sampah sementara kenapa sampah meluber bagaimana mencari lahan untuk membuat TPS baru Hal ini menggambarkan kan yang ada di benak para elit itu adalah sampah itu banyak dan semakin banyak semakin menumpuk dan meluber.

Padahal nyatanya sudah  ada sebagian masyarakat kalau bicara sampah adalah praktek pengolahan sampah, pemanfaatan sampah, menabung sampah, sedekah sampah, sampah jadi emas,  ini tentu adalah wacana lompatan apa yang bisa dilakukan masyarakat, meski masih sebagian kecil.

Ada banyak kengerian tentang sampah tingginya timbunan sampah bisa menyebabkan orang tertimbun sampah, isu tentang sampah laut,  ada satu artikel yang kalau kita klik tentang sampah di samudra maka akan terbaca lah betapa  sampah itu menyebabkan munculnya pulau pulau baru di samudra Pasifik yang tercipta dari tumpukan sampah umat manusia di dunia.

Kota Banjarmasin dimotori pemerintah bersama komponen masyarakat peduli lingkungan, telah menginisiasi dan bersepakat untuk menjadikan kota Banjarmasin tanpa plastik kantongan belanja sekali pakai telah  nyata  di pusat-pusat perbelanjaan dan ritek modern, ketika kita belanja maka harus membawa kantong belanja sendiri.

Bahkan pakar sosiologi Profesor Imam Prasodjo yang juga sebagai anggota Dewan Pakar Persampahan Nasional mengapresiasi apa yang yang dilakukan kan di Banjarmasin dia mempromosikan penggunaan bakul sebagai pengganti kantong plastic, dengan berbagai kreasi yang tidak lain adalah tas belanja kearifan lokal orang Banjar kampanyenya ini bukan hanya secara nasional tetapi juga dilakukan secara global.

Dalam kebijakan strategi nasional ( Jakstranas ) persampahan kota Banjarmasin target pengurangan sampah adalah 30 persen artinya sampah yang dibuang ke TPS hingga sampai TPA berkurang karena adanya upaya pemilahan yang dilakukan kan di TPS 3R maupun di bank bank sampah. Hal ini sesuai dengan target Jakstranas persampahan nasional.

Dari mana angka 30 persen itu menurut Kepala Dinas Lingkungan  Hidup Kota Banjarmasin H. Muchyar, semua berasal dari pola pengelolaan di tempat pengumpulan sampah sementara dengan prinsif 3R yaitu pengurangan timbulan sampah, memakaia ulang dan mendaur ulang, praktiknya adalah  pemilahan sampah organik dan pemilahan sampah anorganik, dilakukan pengelola bersama masyarakat atau pemulung, begitu juga melalui unit-unit bank sampah yang ada ada di masyarakat.

Keberadaan bank sampah induk juga  signifikan untuk pengurangan sampah Pemanfaatan sampah dan pengolahan sampah menurut Arbani personil pengelola  di bank sampah induk Banjarmasin, untuk sampah kering atau sampah anorganik di bank sampah induk mencapai 10 ton per minggu. Sampah kering itu berasal dari setoran bank sampah bank sampah unit yang ada di pemukiman masyarakat,  sekolah,  pasar serta di perkantoran.

Kalau saja masih mengemuka problem sampah di sungai yang yang sebagian besar dilakoni oleh masyarakat di mana ada paradigma lama, paling mudah membuang sampah ke sungai,  ini artinya mereka belum tersentuh edukasi tentang memilah sampah dan menabung sampah sebagai salah satu solusi menyelamatkan sungai dari sampah dan mereka bisa dapat uang dari sampah.

Sungai merupakan tempat hidup dan menghidupi masyarakat di Banjarmasin, karenanya  harus  ada kesadaran bahwa sungai harus diselamatkan dari cemaran sampah,  sungai harus dihormati sebagai wujud terima kasih karena sungai telah memberikan kehidupan dan kenyamanan bagi masyarakat,  ada yang berdagang di sungai ada yang yang hidup dengan angkutan sungai kemudian hari ini ada banyak orang berwisata di sungai.

Kesadaran masyarakat memang menjadi  kunci dalam pengurangan sampah,  karena itu edukasi sosialisasi tentang paradigma baru pengelolaan sampah harus terus-menerus dilakukan,  hal ini juga harus berbanding lurus dengan paradigma yang dimiliki  actor  pimpinan di pemerintahan.

Begitu juga paradigma yang dimiliki aktor politik yang duduk di legislatif kota Banjarmasin, sehingga akan ada warna lain  pengelolaan sampah dengan kebijakan-kebijakan pengurangan sampah serta pemanfaatan sampah.

Kita harus mendorong masyarakat yang sadar sampah,  sampah menjadi sumber daya,  sampah menjadi sumber ekonomi jadi kita ingin menghilangkan sikap  masyarakat yang suka nyampah, paradigma baru sampah adalah sumberdaya, masyarakat peduli dan bersahabat dengan sampah,  setiap melihat sampah maka dia harus tempatkan secara baik dan kemudian memberi kesempatan agar sampah itu itu  dikelola dan dimanfaatkan inilah yang menjadi di idaman bagi kita semua untuk melihat lingkungan bersih Sungai bersih dan tentu saja pemukiman yang bersih.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00