Trend Begal yang Memprihatinkan

images_10.jpeg

KBRN, Banjarmasin : Tingkat kejahatan atau angka kriminalitas yang terjadi di wilayah hukum kepolisian daerah Kalimantan Selatan terjadi penurunan tentu ini ini satu hal positif yang menggembirakan namun kekerasan seperti pembegalan justru meningkat.

Tindak pidana yang terdata di Polda Kalimantan Selatan turun 12,17 persen sepanjang tahun 2020 dari Januari sampai November. Jika pada 2019 lalu terdapat 6.275 kasus, tahun ini tercatat turun 764 kasus menjadi 5.411 kasus.

Seperti yang di ungkapkan Kapolda Kalsel, Irjen Pol. Rikwanto, dari data yang dirangkum berasal dari empat jenis kejahatan, yakni kejahatan konvensional, transnasional, kekayaan negara dan kontijensi.

Untuk kejahatan konvensional, khususnya pencurian kendaraan bermotor (curanmor) mengalami penurunan hingga sekitar 36%. Namun untuk pencurian dengan kekerasan (curas), seperti perbegalan atau kasus serupa, justru naik signifikan hingga mencapai 46%, yakni dari 66 kasus di 2019 menjadi 97 kasus di tahun ini.

"Memang dalam beberapa waktu ini, perbegalan jadi tren ya," ungkap jenderal polisi bintang dua ini dalam Press Release Akhir Tahun Polda Kalimantan Selatan yang digelar Senin (21/12/2020) pagi.

Kenaikan kasus pembegalan dan bentuk kejahatan dengan kekerasan yang angkanya mencapai 46% dari 66 kasus tahun 2019 menjadi 94 kasus pada tahun ini, tentunya menjadi sesuatu yang memprihatinkan, kenapa ? Karena, dari banyak kasus begal, rentan menimbulkan korban luka-luka dari luka ringan hingga luka berat sampai ada korban yang meninggal dunia.

Coba kita lihat salah satu kasus yang terjadi belum lama ini, sebagaimana diberitakan Antara, pada 20 Nopember 2020, Unit Opsnal Subdit 3 Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalimantan Selatan (Ditreskrimum Polda Kalsel) menembak seorang komplotan begal yang telah memakan korban jiwa seorang sopir travel yang dibunuh dan dirampok mobilnya.

"Satu pelaku berinisial SR (28) dari komplotan ini kami tangkap pada Selasa (24/11) di Desa Jombang, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. Pelaku terpaksa diambil tindakan tegas dan terukur karena melawan saat ditangkap," ujar Kasubdit 3 Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel AKBP Andy Rahmansyah, di Banjarmasin

Polisi bergerak mengungkap kasus begal ini, setelah korbannya Dwi Hartono melapor ke Polda Kalsel pada 20 November 2020. Dwi mengaku menjadi korban perampasan mobil hingga dirinya hampir saja terbunuh oleh aksi pelaku begal di Desa Kuningan, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut.

Aksi begal memang menyisakan trauma dan ketakutan di kalangan masyarakat terutama keluarga korban karena itu harus menjadi perhatian khusus dari kalangan penegak hukum begitu juga dari sisi infrastruktur misalnya jalan yang rusak kemudian penerangan jalan tidak berfungsi, sehingga gelap bisa menjadi tempat tempat ber aksinya para begal, hal patut jadi perhatian pemerintah di kabupaten dan propinsi.

Apa yang menyebabkan angka aksi begal ini naik, apakah karena kondisi ekonomi yang lagi sulit di tengah pandemi ini, ataukah ada kehadiran para begal dari luar masuk ke wilayah hukum Kalimantan Selatan. Muncul juga tesa yang menyebutkan apakah ada aktor yang mengkoordinir para begal ini, untuk menjawabnya tentu perlu suatu kegiatan investigasi atau riset yang bisa dilakukan oleh akademisi yang melibatkan ahli hukum Kriminal.

Kelak akan terjawab apa penyebabnya, namun yang lebih penting perlu dibangun adalah kewaspadaan dari masyarakat, pelaku ekonomi dan berbagai komponen masyarakat, memahami dan mengetahui modus modus aksi begal, seperti kasus yang terjadi di Tanah laut modusnya adalah pelaku memesan mobil rental dengan sopirnya setelah tiba di tempat, pelaku memainkan aksi begal nya

Aparat kepolisian pun harus terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait dengan modus modus begal ini, sehingga masyarakat memahami dan mengetahui nya, ujung dari proses itu adalah kewaspadaan masyarakat semakin tinggi, terutama kelompok-kelompok yang rentan menjadi sasaran begal, seperti usaha rental mobil, sopir angkutan, bisnis online dan aktivitas masyarakat lainnya.

Waspada memang menjadi kata kunci yang tepat, harus dimiliki masyarakat kemudian kecepatan untuk melaporkan kepada aparat. Kontak dan aplikasi web atau WhatsApp lapor yang sudah disosialisasikan aparat kepolisian harus dimiliki masyarakat.

Sisi lain tentu saja kecepatan respon yang sudah diberikan oleh aparat kepolisian selama ini dan lebih meningkat lagi ke depan menjadi kunci keberhasilan sinergi antara masyarakat dan jajaran kepolisian di daerah ini dalam upaya menekan kasus begal.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00