Mendesak Sinergitas di Sungai Martapura

800px_banks_of_martapura_river_south_kalimantan_2018_07_28_01.jpg
images_14.jpeg

KBRN, Banjarmasin : Setiap akhir dan awal tahun kota Banjarmasin, mendapat kado kiriman sampah dari berbagai desa dan kelurahan di Kabupaten Banjar dan kota Banjarmasin, sampah-sampah yang milir melalui aliran di sungai Martapura.

Faktanya terlihat di jembatan utama di Kota Banjarmasin seperti jembatan Antasari, menumpuk sampah berupa sampah organik maupun sampah-sampah lain yang hanyut di sungai Martapura, apalagi saat terjadi luapan sungai di beberapa titik sepanjang 36 KM bentang sungai Martapura ini.

Namanya sungai Martapura tentu saja hulu nya bukan hanya di Banjarmasin tapi sungai ini membentang jauh di Hulu sana dari Daerah aliran sungai (DAS) Riam Kanan melintasi kota Martapura hingga ke kota Banjarmasin, tentu saja banyak sekali masyarakat yang bermukim di sepanjang sungai ini.

Sungai Martapura merupakan sebuah sungai yang merupakan anak sungai Barito yang muaranya terletak di kota Banjarmasin dan di hulunya berlokasi di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Nama sungai ini diambil dari nama kota Martapura, yang terletak di sebelah hulu kota Banjarmasin. Nama Martapura diberikan oleh raja Banjar ke-4 Sultan Mustain Billah sebagai ibu kota yang baru didirikan kira-kira pada tahun 1630 setelah dipindah dari Banjarmasin ke kawasan Kayu Tangi, tepatnya di sebelah timur dari Kayu Tangi didirikan keraton baru yang disebut Martapura. Karena itu nama kuno sungai Martapura adalah sungai Kayutangi. Nama lainnya yang dahulu digunakan adalah Sungai Tatas mengacu kepada delta Pulau Tatas,

Jalur sungai dengan melintasi dua kabupaten tersebut tentu saja merupakan kewenangan pemerintah provinsi untuk melakukan pengaturan koordinasi dan penanganan lebih lanjut, setidaknya dalam penanganan sampah yang dilintasi sungai yang sangat vital ini yaitu Kecamatan Karang Intan, Kecamatan Martapura, Kecamatan Sungai Tabuk, Banjarmasin Timur Banjarmasin Utara, Banjarmasin Tengah dan Banjarmasin Selatan, tak kurang puluhan ribu masyarakat yang bermukim di sepanjang sungai tersebut.

Berapa banyak sampah yang dihasilkan oleh masyarakat berdiam di sepanjang sungai tersebut, sehingga jika di sepanjang aliran sungai Martapura itu sebagian masyarakat nyemplungkan ke sungai sampah-sampah tersebut maka bisa diperhitungkan 1 hari berton- ton sampah ke dalam Sungai, padahal bahan baku untuk produksi air minum PDAM bagi masyarakat di Kabupaten Banjar Banjarbaru dan Banjarmasin.

Berdasarkan pantauan komunitas peduli sampah hampir tidak ditemukan unit unit pengolahan sampah ataupun unit bank sampah yang bisa mengumpulkan sampah sampah terpilah dari masyarakat, itu artinya bisa disimpulkan hampir sebagian besar memang sampahnya itu akan bermuara ke sungai.

Jika dibiarkan, Hal ini terus-menerus tentu akan semakin memperburuk kualitas lingkungan sungai Martapura apalagi beban lingkungan ini akan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan pemukiman dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang sungai Martapura, contohnya semakin banyaknya masyarakat yang melakukan budidaya pemeliharaan ikan di keramba yang ada di badan-badan sungai Martapura.

Sering didengungkan oleh para pakar maupun aktivis lingkungan perlunya satu sungai satu manajemen sehingga jelas dan terukur apa yang dilakukan upaya-upaya mengedukasi masyarakat lambat laun bisa mengembalikan kondisi sungai.

Koordinasi dan sinergi sangat diperlukan karena sungai Martapura mempunyai fungsi-fungsi yang sangat strategis terutama untuk pengembangan pariwisata Sungai yang menjadi andalan bagi kota Banjarmasin dan juga Kabupaten Banjar, sehingga diperlukan suatu program sinergis antara Kabupaten Banjar kota Banjarmasin yang koordinasinya dilakukan oleh pemerintah provinsi Kalimantan Selatan.

Ada juga lembaga vertikal yang punya kewenangan dan tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara sungai, yaitu Balai wilayah Sungai yang ada di Kalimantan Selatan dimana lingkup tugasnya meliputi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, beberapa kegiatan sudah dilakukan oleh Balai wilayah Sungai ini namun sifatnya masih parsial karena itu mestinya bisa lebih fokus misalnya untuk menangani lebih ada di sungai Martapura dengan melibatkan 2 Kabupaten Kota dan provinsi.

Empat Komponen yaitu Balai wilayah Sungai, Pemprop Kalsel, kabupaten dan Pemko Banjarmasin, jika bisa bersinergi maka problem-problem sampah di sungai Martapura itu pasti bisa ditangani dengan baik jadi tidak lagi nanti setiap tahun Banjarmasin ini, mendapatkan kado kiriman akhir tahun berupa tumpukan sampah yang kemudian menggunung dan terhenti Di bawah jembatan Pangeran Antasari, atau jembatan Dewi atau jembatan A Yani.

Kunci penuntasan problem sampah di sungai Martapura ini adalah kesadaran masyarakat namun tentu saja ada proses yang harus dilakukan bersama, ada upaya edukasi sosialisasi tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sungai supaya benar-benar bisa menjaga kondisi sungai. 

Sungai Martapura sudah memberikan jasa kehidupan dengan penyediaan air sebagai bahan baku PDAM, tersedianya ikan dan berbagai biota air yang secara langsung bisa menghidupkan masyarakat di beberapa kabupaten di Kalimantan Selatan, beberapa bagian dari sungai ini juga menjadi penyedia air untuk irigasi kawasan pertanian, kemudian fungsi sungai sebagai sarana transportasi dan tentu saja fungsi sungai sebagai kawasan pariwisata.

Masihkah kita berkeinginan mengotori sungai yang nyata nyata telah memberikan kehidupan , semoga jawabannya tidak, ya tidak.   

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00