Pelaku UMKM Sasirangan di Kalsel Butuhkan Pendampingan Permodalan dan Pemasaran

Dialog khusus ‘Beranda Nusantara’ di Pro 1 RRI Banjarmasin bersama Kadis Koperasi dan UKM Gusti Yanuar Noor Rifai, Pelaku UMKM Yayasan Ragam Sasirangan Rakhmalina Bakhriati dan Pengamat Ekonomi dari STIE Nasional H Mohdari topik mendongkrak potensi kain sasirangan  Kalsel di Manca Negara, Senin (24/5/2022).Foto: dok RRI.jpg

KBRN, Banjarmasin: Potensi pengrajin Kain Sasirangan di Kalimantan Selatan sangat besar. Keberadaan mereka tersebar di sejumlah kabupaten Kota di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Sebut saja di Banjarmasin, ada sekitar 300 pengrajin Sasirangan yang aktif dari total di Kalsel sebanyak 600 lebih pengrajin.

Hal ini diungkapkan pelaku UMKM dari Yayasan Ragam Sasirangan Kalsel Rakhmalina Bakhriati saat dialog khusus ‘Beranda Nusantara’ di Pro 1 RRI Banjarmasin dengan topik mendongkrak potensi kain sasirangan  Kalsel di Manca Negara, Senin (24/5/2022).

“Dari segi potensi Ini merupakan potensi yang besar terutama untuk pasar lokal maupun luar daerah dan internasional,”ungkap Lina, sapaan akrabnya.

Diakui Lina, telah banyak fasilitas – fasilitas pelatihan  yang diberikan oleh dinas maupun instansi terutama dalam hal meningkatkan kualitas produk Sasirangan baik dari segi pewarnaan desain dan model sudah menunjukan peningkatan.

Namun yang masih menjadi kendala sekaligus tantangan bagi pengrajin Sasirangan yakni dalam pemenuhan kuantitas.

“Ketika orderan banyak, pengrajin tidak siap,”kata Lina.

Selain itu, kendala lain yang di hadapi yakni link dan permodalan untuk merambah pangsa pasar internasional.

Menanggapi persoalan ini, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalsel Gusti Yanuar Noor Rifai mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Perbankan di daerah ini terkait anggaran permodalan bagi UMKM.

Menurutnya peruntukan anggaran bagi UMKM sangat besar, tinggal bagaimana memperolah dana tersebut sesuai dengan ketentuan atau persyaratan  yang disepakati.

Ia juga menyebutkan kerjasama pemerintah kabupaten/kota dengan Perbankan dalam hal bantuan permodalan bagi UMKM.

“Untuk UMKM itu ternyata anggaran di Perbankan sangat besar, ada beberapa daerah bahkan sudah kerjasama dengan perbankan, sehingga UMKM bebas bunga bank,’ungkap Yanuar Noor Rifai.

Sementara pengamat ekonomi dari STIE Nasional Banjarmasin Mohdari menyarankan perlu adanya pendampingan bagi UMKM terutama untuk mendapatkan permodalan.

Walaupun anggaran tersedia sangat besar, namun tidak termanfaatkan oleh UMKM dikarenakan kesulitan dalam membuat profosal dan syarat ketentuan lain.

Disisi lain besarnya bunga bank menjadi persoalan untuk mengajukan permohonan permodalan melalui Perbankan.

“Harus ada pendampingan agar UMKM di Kalsel bisa naik kelas dan merambah pasar internasional,”ungkap Mohdari.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar