Bagandang Nyiru Tradisi Mencari Anak Hilang Masyarakat Suku Banjar

KBRN, Banjarmasin: Tradisi atau kebiasaan adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama, karena dinilai memiliki manfaat bagi beberapa daerah.

Di setiap daerah mempunyai tradisi atau kebiasaannya masing-masing, termasuk juga di Kalimantan Selatan memiliki sebuah Tradisi untuk mencari anak yang hilang atau tidak kunjung pulang ke rumah ketika senja. Tradisi tersebut bernama “Bagandang Nyiru”, Rabu (14/10/2021).

Bagandang nyiru merupakan tradisi yang ada dikalangan masyarakat Banjar. Bagandang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan memukul-mukul seperti memukul alat musik kendang. Sedangkan Nyiru atau biasa disebut Tampah adalah alat rumah tangga yang terbuat dari anyaman rotan dan berbentuk bundar serta berfungsi untuk menampi beras atau gabah, agar memisahkan antah beras.

Anak-anak sering bermain di luar rumah, bahkan saking seru nya mereka bermain sampai tak kenal waktu. Apabila telah senja biasanya anak-anak akan pulang ke rumah masing-masing. Kadang pernah ditemui kejadian anak-anak yang bermain di luar rumah tidak kembali hingga hari gelap.

Apabila anak yang belum kembali tersebut di tunggu beberapa lama dan juga telah di cari kemana-mana akan tetapi tidak ditemukan, maka dalam keyakinan masyarakat Banjar anak tersebut “disembunyikan orang gaib”.

Karena hal itu lah maka muncul lah tradisi bagandang nyiru ini dilakukan dengan memukul-mukul nyiru sambil berjalan mengelilingi kampung secara beramai-ramai dan memanggil anak yang hilang tersebut.

Hal tersebut di percaya dapat mengganggu dan membuat takut orang gaib yang menyembunyikan anak itu. Setelah orang gaib tersebut lari karena ketakutan  mendengar bunyi-bunyian, maka terbuka lah tirai gaib yang menyelimuti si anak sehingga dapat ditemukan.

Anak-anak tersebut biasanya ditemukan berada di bawah pohon besar, di bawah kolong rumah (kebanyakan rumah masyarakat banjar mempunyai ruang di bawah rumah), bahkan ada juga yang ditemukan di atas pohon.

Kondisi anak yang hilang tersebut ketika ditemukan dalam keadaan bingung dengan badan berlumuran seperti kelenjar dan juga berminyak.

Setelah berhasil ditemukan, biasanya orang tua si anak mengadakan selamatan atau syukuran karena telah berhasil menemukan sang anak.

Mencari orang hilang dengan begandang nyiru, masih berjalan sampai sekarang apabila ada kejadian hilangnya anak. Entah mitos atau fakta namun, bagandang nyiru ini sudah menjadi budaya pada masyarakat banjar terutama di wilayah Banjar pahuluan. (Achmad Suwandi)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00