Manusia Silver Bukan Pengemis atau Kriminal

Adi Bayu, Manusia Silver di kawasan perempatan Jakarta Garden City - Jalan Raya Cakung CIlincing (JGC-Cacing) di sore hari (RRI/Miechell)

KBRN, Jakarta: Fenomena sosial di megapolitan selalu jadi pusat perhatian karena menyimpan sejuta kisah menarik dibalik itu.

Manusia Silver adalah nyata. Mereka ada dan sudah menyebar di setiap sudut Jakarta, terutama pusat-pusat keramaian. Dan sebagian besar mereka memilih lampu merah perempatan-perempatan besar.

Fenomena sosial menyimpan kisah, dan dari kisah itu kerap muncul teriakan-teriakan dan jeritan-jeritan sosial. 

Berikut ini adalah jeritan hati Manusia Silver, yang lahir dari kerasnya kehidupan Ibu Kota.

BACA JUGA: Manusia Silver, Aksi Seni Sandaran Rejeki Keluarga

Kriminal, Pengemis, dan Polisi

Profesi apapun selalu ada suka dukanya. Termasuk ketika Anda menjadi Manusia Silver, dimana aksi seni yang biasanya berada di kawasan wisata, harus turun ke tengah pekatnya debu jalanan. 

"Suka dukanya? Suka duka jadi Manusia Silver lebih ke aparat saja," kata Adi Bule, salah satu Manusia Silver di perempatan besar Jakarta Garden City - Jalan Raya Cakung Cilincing (JGC-Cacing), Jakarta Timur, Jumat (7/8/2020) sore.

Petugas dari Departemen Sosial, atau Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S), serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) merupakan mimpi buruk bagi Manusia Silver.

"Buat orang-orang dari Departemen Sosial atau P3S, Manusia Silver itu seperti pengemis dan wabah. Jadi kami tidak dilihat sebagai aksi seni seperti di kawasan wisata tempat asal kami," ujar Adi Bule menambahkan.

Rekan Adi Bule, yakni Ridwan melanjutkan, bukan sekedar P3S yang menjadi momok bagi mereka, tapi Satpol PP juga, dimana keduanya itu selalu operasi gabungan.

Adi Bayu (pakai topi) dan Adi Bule, dua Manusia Silver di perempatan JGC-Cacing (RRI/Miechell)

"Satpol PP yang mengejar kami. Orang dari Dinas Sosial itu bagian ngangkutin. Jadi saat operasi, kami pasti tercerai berai, lari menyelamatkan diri," sambung Ridwan.

Baik Adi Bule maupun Ridwan, mereka berdua menyuarakan jeritan hati yang sama, bahwa tidak ada tindakan kriminal yang mereka lakukan. Kenapa harus dikejar dan ditahan?

Dan jika dikatakan masalah sosial seperti layaknya pengemis, seharusnya perlu dikemukakan perspektif yang adil mengenai hal ini. Aksi seni mereka memang mendapat apresiasi dari masyarakat berupa uang, makanan, atau rokok. Tapi bagi mereka tidak ada perilaku mengemis dari apa yang mereka lakukan selama ini. 

Memaksa warga atau pengendara di lampu merah juga tidak pernah mereka lakukan. Bahkan mereka ikut membantu melancarkan lalu lintas terutama saat terjadi kemacetan di perempatan jalan besar.

"Tidak, kami tak pernah memaksa supaya kotak biru kami diisi uang. Kami 'main' di depan pengemudia, beraksi seni saja. Dikasih uang syukur, tidak dikasih kami tetap menghormati mereka. Lalu masalah dari kami ini apa?" ucap Ridwan.

"Mungkin cuma sama polisi kami berteman. Pak polisi lebih mengerti kami. Karena kita ini ikut membantu mengurai kemacetan. Sama polisi, kami (dipandang) bukan kriminal," sergah Adi Bule menimpali.

Selanjutnya : Pengalaman Pahit

Halaman 1 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00