Buruh Yogyakarta Tolak Upah Murah

Buruh di Yogyakarta lakukan Aksi Tapa Pepe tolak upah murah (Dok. RRI)

KBRN, Yogyakarta: Lalu-lalang mobil dan sepeda motor di Titik Nol Kilometer, Senin (2/11/2020) siang terlihat cukup ramai.

Saat itu, puluhan buruh dan mahasiswa dari Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI), berada di tengah persimpangan jalan kawasan Malioboro tersebut.

Sekitar tujuh orang di antaranya duduk bersila memakai baju surjan bermotif lurik, dengan penutup kepala dari kain batik yang sekilas mirip blangkon.

Di belakang mereka, massa lainnya yang memakai baju biasa dalam posisi berdiri, terlihat membentangkan poster tuntutan, juga mengibarkan bendera organisasi yang terpasang pada tiang kayu.

Di depan para buruh, terbentang spanduk besar dari kain warna putih, yang diletakkan begitu saja di atas jalan.

Susunan abjad dari goresan cat merah pada lembar kain, membentuk urutan kalimat yang dibaca ”Gelar Budaya Topo Pepe Tolak Upah Murah 2021".

Saat melakukan doa bersama, seluruh massa aksi terlihat duduk bersila.

Aroma kemenyan yang dibakar dalam tungku kecil dari tanah liat, tercium kuat saat sebagian asapnya terbawa angin dan merasuk ke dalam rongga hidung.

”Tapa Pepe ini sebagai simbol protes buruh-buruh di Yogyakarta untuk menyampaikan keprihatinan kepada Sultan yang bertahta,” ungkap Irsad Ade Irawan, sebagai Juru Bicara MPBI saat memberikan keterangan.

Rasa kecewa yang mengganjal di hati para buruh tak mampu diredam, setelah Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur DIY pada 31 Oktober lalu, menetapkan besaran Upah Minimum Provinsi (UMP) 2021.

Nominal upah terbaru yang rencananya diberlakukan efektif mulai 1 Januari mendatang, ditetapkan sebesar Rp1.765.000,00.

Jumlah itu naik 3.54 persen dari nilai UMP tahun ini, yang mencapai Rp1.704.608,00.

Tetapi Irsad menganggap, besaran yang ditetapkan, masih jauh di bawah nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sebesar Rp3.000.000,00 sesuai hasil survei mandiri yang dilakukan organisasi buruh.

”Kami sudah sangat kecewa dan hampir putus asa dengan pemerintah, karena sudah merugikan buruh,” lanjut dia.

Selanjutnya : Rekomendasi dan Kontroversi

Halaman 1 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00