Kader PAN Dipecat, Diduga Cabuli Anak Kandung

Ilustrasi / pencabulan terhadap anak remaja harus dibasmi (Dok. Istimewa)

KBRN, Mataram: Kasus pencabulan yang diduga dilakukan oleh oknum mantan anggota dewan membuat partai yang menaunginya bersikap tegas.

DPW PAN NTB mengambil langkah tegas dengan memecat AA, kader mereka yang tersandung kasus dugaan pencabulan anak kandung.

Formatur DPW PAN, Muazzim Akbar, Kamis (21/1/2021), melalui sambungan telepon, mengaku, AA pernah menjadi pengurus PAN akan tetapi setelah musyawarah wilayah (Muswil) AA tidak lagi masuk kepengurusan partai.

Sebagai kolega di partai, ia meyayangkan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan AA karena tindakan itu sangat tidak dibenarkan.

Pemecatan sebagai kader partai, lanjutnya, merupakan langkah tegas dan pembelajaran bagi seluruh kader dan lainnya agar tidak melakukan tindakan serupa.

“Sebagai pimpinan partai di NTB tentu saya meyayangkan hal itu. Sikap partai tentu tegas yakni memecat kader yang melakukan hal-hal yang tidak bermoral. Sehingga kami dari partai langsung bersikap dan tidak ada ampun, kita pecat yang bersangkutan dari kader partai serta KTA kita cabut,” jelasnya.

Muazzim menambahkan, partai yang dipimpinnya akan mendukung langkah hukum yang tengah berjalan dengan tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah.

Disamping itu, ia meminta kepada seluruh kader agar menjadikan kasus tersebut contoh yang harus dilawan sebab sangat merusak baik bagi diri, korban, maupun kehidupan di tengah masyarakat.

“Ini menjadi pembelajaran untuk semua kader dan simpatisan PAN, sebab hal-hal seperti ini tidak boleh dilakukan karena sangat tidak bermoral,” tutupnya.

Sebelumnya, anggota Satuan Reskrim Polresta Mataram mengamankan mantan anggota DPRD NTB berinisial AA.

Pria 65 tahun itu diduga mencabuli anak gadisnya sendiri yang masih duduk di bangku SMA.

Mantan anggota DPRD NTB dari Dapil Bima itu diduga mencabuli anak kandungnya dari istri kedua.

Perbuatan tidak senonoh sang ayah dialami korban 18 Januari lalu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00