Presiden Desak Jatim Tekan Jumlah Pasien COVID-19

antarafoto_kunjungan_presiden_ke_banyuwangi_budi_candra_setya.jpg

Ditulis Redaktur Senior RRI Widhie Kurniawan.

Tepat di saat Presiden Joko Widodo mengunjungi Jawa Timur dan mendesak pemerintah propinsi tersebut menekan laju pertambahan penderita COVID-19, pada hari yang sama Gugus Tugas Nasional menyampaikan bahwa jumlah angka kematian akibat virus corona di Jawa Timur nomor satu paling banyak se-Indonesia. Jumlah angka meninggal sudah hampir 800 orang. Kemarin saja, ada tambahan warga Jatim meninggal sampai 32 orang. Paling mengkhawatirkan adalah Surabaya.

Ini menandakan bahwa Jawa Timur sudah dalam kondisi darurat. Sedangkan PSBB di Surabaya sudah berakhir 8 Juni lalu, sehingga tidak ada banyak ruang untuk mengatur warga. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sendiri menyampaikan curhat kepada Presiden kemarin, bahwa banyak warga Jawa Timur seolah mengabaikan protokol kesehatan.

Menurut data FKM Universitas Airlangga Surabaya, 70 persen lebih orang Jawa Timur tidak pakai masker, bahkan di pasar tradisional yang tidak mau pakai masker mencapai 84 persen lebih. mengkhawatirkan.

Sebenarnya kurang elok juga seorang gubernur menyampaikan keluhan kepada presiden soal perilaku warganya. Bila mengeluh soal keterbatasan mobil PCR, jumlah APD atau jumlah dokter, mungkin dapat dimaklumi.

Tapi ini Gubernur mengeluhkan perilaku wargannya sendiri. Agak disayangkan juga. 

Namun bisa jadi memang itu ungkapan apa adanya, atau patut juga di persoalan model kepemimpinan dari seorang gubernur Jawa Timur. Akan tetapi memang, antara gubernur dengan pemerintahan di pemerintah kota saja kurang kompak. Dengan Walikota Surabaya, Tri Risma Harini, beberapa kali tidak kompak soal kebijakan penanganan virus corona.

Jadi, bila Presiden mendesak agar dalam dua minggu Jawa Timur mampu mengendalikan tambahan sebaran positiv corona, harus dilengkapi dengan sanksi apabila gagal. Sebab, sejumlah orang belum yakin Jawa Timur mampu, seraya berdoa semoga mampu.

00:00:00 / 00:00:00