Jelang Aneksasi Tepi Barat: Diplomasi atau Agresi? 

antarafoto_israel_palestina_annexation_protest_26062020.jpg

KBRN, Jakarta: Tanggal 1 Juli nanti menurut rencana Israel akan terjadi pencaplokan di West Bank, Tepi Barat Palestina. Tinggal hitungan hari.

Wajar kalau kemudian semua pihak yang tidak setuju dengan adanya aneksasi menjadi gelisah. Suasana politik dalam negeri Palestina resah.

Hamas Gerakan Palestina garis keras muncul  menentang keras rencana Israel tersebut. Palestina berharap ada dukungan dari berbagai pihak yang menolak rencana aneksasi Tepi Barat tersebut, agar ide itu tidak terwujud. Namun faktanya sampai hari ini efek penolakan dan perundingan yang dilakukan untuk menolak rencana aneksasi itu belum menimbulkan dampak yang besar untuk membatalkan rencana aneksasi Israel. 

Dalam Konferensi Tingkat Menteri ​Luar Biasa (KTM-LB) Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang berlangsung virtual bulan Juni ini,  Menlu Retno secara khusus menekankan rencana aneksasi di tengah pandemi Covid-19 telah melipatgandakan tekanan kepada Palestina. Aneksasi wilayah Palestina oleh Israel baik secara “de-facto" maupun “formal" merupakan hal yang tidak dapat diterima". 

Ada langkah-langkah yang disiapkan oleh OKI untuk merespon rencana aneksasi ini. Di hadapan para menteri luar negeri OKI, Menteri Retno mengajak negara anggota OKI untuk bersatu dan memobilisasi kekuatan menolak aneksasi wilayah yang direncanakan oleh Israel tersebut melalui tiga cara.

Pertama, apabila Israel melanjutkan aneksasi secara formal, maka negara anggota OKI yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel diminta melakukan langkah diplomatik sesuai dengan berbagai Resolusi OKI. Kedua, negara-negara OKI secara kolektif menggalang dukungan internasional untuk menolak aneksasi Israel di berbagai forum internasional seperti Majelis Umum PBB, Dewan Keamanan PBB, dan Dewan HAM. Ketiga, mendorong dilanjutkannya negosiasi yang kredibel dan sesuai parameter yang disepakati secara internasional, untuk mencapai “solusi dua negara" (two-state solution). 

Tentu semua berharap, langkah diplomasi yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak bisa membuahkan hasil. Namun jika tidak, bisa jadi skenario lain yang mungkin terwujud pada awal Juli nanti. Beragam persoalan ini akan menjadi puncak gunung es dan bisa 'meledak'.

Lantas, mungkinkan Palestina-Israel berdamai?

Ditulis Weny Zulianti, VOI

00:00:00 / 00:00:00