Persebaran Virus Corona, Fakta atau Konspirasi?

Pemakaman muslim yang disediakan pemerintah bagi korban meninggal akibat virus corona (COVID-19) berada di komplek pemakaman Tegal Alur di Jakarta. (Antarafoto/Reuters/Willy Kurniawan/WSJ/djo)

KBRN, Jakarta: Sejatinya, tidak perlu ada keraguan soal persebaran virus corona di tengah masyarakat, karena dampak dari serangan wabah ini sudah tampak jelas. 

Ada sekitar 600 ribuan orang meninggal akibat serangan Covid-19, sedangkan pada Bulan April, baru mencapai 200 ribuan pasien meninggal. Hanya 3 bulan, naik 400 ribu. 

Di Indonesia sendiri pasien positif sudah menembus 100 ribu, dan pasien meninggal lebih dari 4 ribu orang.

"Ini jelas mengkhawatirkan dan ini ancaman nyata, bukan rekayasa dan bukan konspirasi," kata Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Letjen TNI Doni Moenardo.

Tapi sayangnya, tidak sedikit orang menyebut ini adalah konspirasi. Di San Antonio Texas, ada seorang ahli teori konspirasi dan masih muda, berusia sekitar 30-an tahun. 

Ia pun ingin membuktikan bahwa Virus Corona itu adalah rekayasa. Ujicobanya adalah dirinya sendiri dengan mengadakan pesta bersama seseorang yang positif corona. 

Beberapa hari setelah itu, ahli konspirasi tersebut dinyatakan positif dan selang beberapa waktu kemudian, ia dinyatakan tewas akibat corona. 

Beberapa waktu lalu, ada ahli komputer program, Bill Gates yang juga dikaitkan dengan rekayasa Virus Corona. 

Ada juga yang menyebut, ini dari Amerika melalui tentaranya yang disebarkan ke China. Sementara orang Amerika bilang, virus corona hasil rekayasan laboratoriun virus di Wuhan. 

Ini semua sulit dibuktikan. Yang dihadapi dunia adalah fakta korban meninggal akibat corona sudah banyak, jadi memang tidak perlu lagi ada yang menyebut ini rekayasa dan konspirasi. 

Angka meninggal 4 ribu lebih adalah fakta di Indonesia. Ini fakta.

Ditulis Redaktur Senior RRI Widhie Kurniawan

00:00:00 / 00:00:00