Tahu Tempe, Makanan Lokal Nan Mewah

Foto: (Dok. Ist)

KBRN, Jakarta: Aksi mogok produksi tempe dan tahu berlangsung tanggal 1 hingga 3 Januari kemarin. 

Hari ini tahu dan tempe kembali produksi dengan harga penyesuaian. 

Aksi mogok produksi tersebut cukup menarik, karena di pasaran  benar-benar kosong. 

Termasuk penjual gorengan pun tidak menyiapkan tempe dan tahu goreng. 

Aksi tersebut harus diakui terbilang efektif, karena memang dilakukan secara serempak. 

Alasan utama mogok produksi kata pimpinan gabungan koperasi perajin tahu tempe Aip Syaifudin sederhana, yakni kenaikan harga kedelai di pasaran, dari 7 ribuan  menjadi 9.300 rupiah per kilogramnya. 

Memang tinggi lonjakannya. Menariknya, Aip Syaifudin bersama Kementerian Perdagangan juga sudah paham bahwa kedelai tempe itu adalah bahan impor dari Amerika. 

Saat ini, kedelai sedang dibeli dalam jumlah besar oleh China Tiongkok. 

Akibatnya harga impor naik. Jadi, kalau mogok produksi goalnya tidak jelas. 

Harusnya tidak perlu mogok. Naikkan saja harganya. Toh setelah mogok tetap saja naik.

Tapi yang perlu dipersiapkan di sini bukan kementerian perdagangan, tapi kementerian pertanian.

Karena terbukti, bangsa Indonesia sebagai konsumen. Tempe terbesar di dunia, ternyata kedelainya impor dari Amerika. 

Jadi, jangan bangga makan tempe sebagai makanan sederhana, sebab tempe itu sederajat dengan fried chicken yang produksi Amerika.

Tempe dan tahu itu berarti makanan mewah, karena diimpor.

Editorial ditulis oleh redaktur senior RRI.co.id Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00