PSBB Kembali di Jawa dan Bali

Petugas medis melakukan tes usap COVID-19 secara lantatur atau layanan tanpa turun di Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium, Cilandak, Jakarta, Senin (4/1/2021). Pemprov DKI Jakarta memperpanjang PSBB transisi hingga 17 Januari 2021 untuk menekan kasus aktif COVID-19 pascalibur natal dan tahun baru. (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Apa bedanya bermain roller coaster dengan arung jeram, sepertinya dapat menggambarkan suasana penanganan Covid-19 di tanah air saat ini.

Bermain roller coaster termasuk mengerikan dan membahayakan, namun semua sudah didesain sedemikian rupa sehingga tingkat keselamatannya dapat diperhitungkan. Ada kecelakaan, kendati sangat sedikit. Semua kekuatannya ada di perangkat roller coaster itu sendiri.

Sedangkan arung jeram, sama-sama mengerikan. Hanya bedanya, potensi kecelakaan lebih besar dan kekuatannya ada pada penumpang arung jeram tersebut. Itu pun masih ada potensi lain dari alam, semisal ada air bah.

Kita kini sedang menghadapi kondisi itu dalam penanganan Covid-19. Beberapa bulan lalu, Presiden Joko Widodo memperkenalkan istilah "New Normal", dan ternyata gagal. Tingkat penularan Covid sangat tinggi. New Normal digunakan untuk mengakhiri kebijakan PSBB atau pembatasan sosial berskala besar.

Di luar negeri, beberapa negara lebih memilih lockdown. Ketika Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan tiba-tiba menarik "rem darurat" saat mulai New Normal, orang banyak mengecamnya. Presiden Joko Widodo lebih merujuk pada Pembatasan Sosial skala Mikro. Bogor adalah salah satu wilayah yang dinilai bagus.

Saat ini rupanya, kondisi paparan virus makin mengerikan. Sebagai referensi, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyajikan data, pada akhir Desember lalu, penambahan kasus mencapai 48.434 kasus dalam kurun satu pekan, sedangkan pada awal Januari 2021 meningkat menjadi 51.986 dalam kurun satu pekan.

Angka kesembuhan memang tinggi 652 ribuan berbanding jumlah terpapar 788 ribuan, tapi yang meninggal sudah 23 ribu orang. Pasien meninggal tidak mengenal kasta dan derajat, mulai dari tenaga kesehatan, rakyat kecil penjual sayur, hingga  bupati, anggota DPR dan profesor.

Ketika Tokyo, Jepang dan London, Inggris menerapkan lockdown, pemerintah akan menerapkan kembali PSBB seperti sebelum zaman New Normal. Tidak ada satu pakar pun, bahkan satu negara pun yang dapat menangani secara sempurna. Semua kebijakan ada plus dan minus, dan harus didukung.

"3 M" itu tetap penting.

Komentar ditulis oleh Editor Senior Pro3 Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00