Supremasi Kulit Putih di Negara Multikuktural

Seorang pendukung Presiden AS Donald Trump membawa bendera AS dalam aksi protes di gedung Capitol menjelang sertifikasi oleh Kongres AS atas hasil pemilu November 2020 di Washington, Amerika Serikat, Selasa (5/1/2021). (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Di tengah persepsi awam bahwa Amerika Serikat negara adidaya yang sangat demokratis dan multikultural, maka agaknya sulit diterima akal ada parade 8000 anggota KKK - Ku Klux Klan yang berlangsung secara terbuka dan dibiarkan seperti yang terlihat dalam parade di Roxboro, Carolina Utara belum lama ini, akhir Desember 2020 lalu tepatnya.  

Seperti diketahui Ku Klux Klan adalah kelompok yang lahir pada Desember 1865,  mengusung supremasi kulit putih. Gerakan ini seperti muncul lagi seiring meningkatnya mentalitas nasionalis. Terutama ketika Donald Trump menunjukkan sikap politiknya meski tidak terbuka sebagai pendukung supremasi kulit putih,  menunjukkan kecenderungan sikap anti-minoritas dan imigran selama kampanye, dan hal ini selaras dengan pandangan kelompok KKK gaya baru seperti Alt-Right, The Aryan Nations, White Aryan Resistance, The National Alliance, dan The World Church of the Creator.

Propaganda mereka: menolak AS dipimpin oleh orang kulit hitam dan menyalahkan orang Yahudi yang dianggap menguasai ekonomi AS. Ketika rasisme ternyata punya sejarah panjang di negara yang selalu mengklaim sebagai negara paling demokratis bertemu dengan pemegang kekuasaan ternyata memiliki pemikiran yang seirama, maka tak ayal wajah rasisme seperti dibiarkan  muncul lagi jadi wajah Amerika. Apalagi langkah politik  Donald Trump diuntungkan oleh Ku Klux klan modern yang merupakan pendukung setia Trump dan  mengantarkannya pada gerbang kemenangan Pemilu pada 2015. Wajar kalau Trump terkesan membiarkan Gerakan ini. 

Pertanyaannya jika hal ini dibiarkan, apakah akan menjadi ancaman  tersendiri untuk Amerika? Bahkan mungkin untuk dunia? 

Belajar dari sejarah Perang Dunia ke-2, sikap chauvinisme, menganggap dirinya lebih unggul dari ras lainnya. yang melatarbelakangi penyebab munculnya fasisme di Jerman waktu itu. Atau juga paham ultranasionalisme  Italia dengan Irredenta, dan Jepang dengan paham Hakko I Chiu. Hingga Perang Dunia ke-2 diwarnai paham tersebut.  Di Jerman, sampai tahun 2020 masih ditemukan anggota kepolisian dan militer Jerman yang mendukung pandangan sayap kanan atau ultranasionalis ini. Wajar jika kemudian menimbulkan kekhawatiran. Trauma pembantaian Ribuan orang yahudi oleh Nazi, kelompok sayap kanan Jerman pada saat itu masih belum hilang hingga kini. 

Kalau hari ini aksi supremasi kulit putih ini dibiarkan di Amerika Serikat sama artinya kita menumpuk pekerjaan rumah untuk masa depan. Islamphobia akan tumbuh subur, para imigran di Amerika akan sulit gerak hidupnya  dan berbagai dampak lainnya.  Amerika akan menghancurkan kepercayaan dunia selama ini sebagai  negara yang multikultural. 

Dengan Kepemimpinan Joe Biden yang arah dan sikap politiknya berbeda dari Trump, tentu Kita berharap menertibkan paham supremasi kulit putih ini bukan hal yang sulit untuk dilakukan. 

Ditulis Redaktur VOI, Weny Zulianti.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00