Ibu Pertiwi Dirundung Duka, Kehendak Siapa?

Foto: (Dok. Antara Foto/Abriawan Abhe/foc)

KBRN, Jakarta: Bukankah Januari ini sudah masuk pertengahan, tetapi sepertinya suasananya belum menampakkan tanda tanda semangat untuk bangkit. 

Harusnya kita optimis memasuki tahun 2021 ini, dengan harapan lepas dari Covid-19, terutama setelah proses vaksinasi dimulai 13 Januari lalu. 

Namun rupanya, harapan untuk bangkit itu masih terasa berat. Kebijakan pemerintah melakukan PSBB secara terbatas sesungguhnya adalah bagus untuk menekan penularan Covid-19. Akan tetapi pada saat bersamaan itu merupakan Warning bahwa virus Corona belum dapat dikendalikan. 

Kemarin, jumlah rakyat terpapar Covid-19 menyentuh angka 900 ribu orang lebih. Artinya, bila kondisinya tetap sulit dikendalikan, angka satu juta berarti tidak lama lagi. 

Di tengah semangat memulai proses vaksinasi, terjadi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ182. Seluruh awak pesawat, pilot dan penumpang meninggal dunia. Duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. 

Belum juga usai identifikasi jenazah korban, terjadi gempa di Mamuju dan Majene Sulawesi Barat. Banyak bangunan hancur termasuk jumlah korban meninggal dunia kata Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI (Purn) Bagus Puruhito mengatakan korban meninggal sudah sebanyak 78 orang. Mungkin bisa mendekati 100 orang, mengingat banyak reruntuhan yang belum dibongkar. 

Pada hari yang sama, Banjarmasin, Banjar Baru dan sejumlah daerah di Kalimantan terendam banjir berhari-hari. 

Kata orang ini akibat alih fungsi hutan jadi kebun sawit dan tambang. 

Banjir dan longsor juga menerjang Sumedang, Tasikmalaya, Bima Nusa Tenggara Barat hingga Manado Sulawesi Utara.

Korban jiwa terus berjatuhan. Masih pada saat yang sama, Gunung Semeru dan Gunung Merapi juga mulai mengeluarkan asap pekat. 

Kita prihatin dan berduka. Mau bilang ini semua akibat kehendak Tuhan Allah yang Maha Kuasa, tapi khawatir tidak semua orang mengimaninya.

Mau bilang ini akibat ulah manusia, tapi tidak ada manusia yang mau mengaku salah, mau bilang ini karena alam tidak lagi bersahabat dengan kita, kenyataannya alam sejak dahulu kala ya seperti ini, bahkan bisa jadi lebih kejam lagi. 

Lalu, yaa.. sebut saja musibah.  Musibah yang datang kapan saja kepada manusia. 

Kalau ditanya kemudian kepada siapa Kita minta tolong... Ya tidak ada.

Kecuali Kita memang bersepakat menanti kekuatan ghaib seperti yang termaktub pada sila pertama Pancasila. 

Editorial ditulis oleh redaktur senior RRI co.id Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00