Banjir Kalsel, Curah Hujan atau Berkurangnya Hutan?

Foto: (Dok. Antara Foto/Bayu Pratama S/hp)

KBRN, Jakarta: Lima belas orang meninggal dunia dalam musibah banjir yang melanda 10 Kabupaten dan kota di Kalimantan selatan.

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB menyebut, 15 orang korban meninggal tersebut 7 orang di Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah 3 orang, Kota Banjar Baru 1 orang, Kabupaten Tapin 1 orang, dan Kabupaten Banjar 3 orang.

Selain itu, tercatat sebanyak 24.379 rumah terendam banjir dan 39.549 warga mengungsi dengan rincian antara lain, Kabupaten Tapin sebanyak 582 rumah terdampak dan 382 jiwa mengungsi.

Kabupaten Banjar 6.670 rumah terdampak dan 11.269 jiwa mengungsi.

Kemudian Kota Banjar Baru 2.156 terdampak dan 3.690 jiwa mengungsi, Kota Tanah Laut 8.506 rumah terdampak dengan 13.062 jiwa mengungsi.

Lalu di Kabupaten Balangan sebanyak 1.154 rumah terdampak dengan 17.501 jiwa mengungsi, Kabupaten Tabalong 407 rumah dengan 770 jiwa terdampak dan mengungsi, Kabupaten Hulu Sungai Tengah 11.200 jiwa mengungsi dan 64.400 jiwa terdampak, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 387 rumah terdampak dan 6.690 jiwa mengungsi, Kota Banjarmasin dengan 716 jiwa terdampak, Kabupaten Batola 517 rumah dan 28.400 jiwa terdampak.

Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya di Kalimantan Selatan kemarin menyampaikan, duka cita mendalam atas korban meninggal akibat banjir tersebut.

Curah hujan yang sangat tinggi hampir 10 hari berturut-turut menjadi salah satu penyebab banjir ini, yang membuat daya tampung Sungai Barito yang biasanya menampung 230 juta meter kubik, kini masuk air sebanyak 2 koma 1 miliar kubik air.

Dalam kunjungan kerjanya ke Kalimantan Selatan, Kepala Negara juga menyebut, ini adalah sebuah banjir besar yang mungkin sudah lebih dari 50 tahun tidak terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan.

Presiden juga minta agar jembatan yang ambruk segera diperbaiki sehingga dapat memudahkan mobilitas distribusi barang bagi yang terdampak bencana banjir.

Selain disebabkan curah hujan yang tinggi, apa penyebab lain yang mengakibatkan banjir.

Menurut tim tanggap darurat bencana di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), banjir tersebut diakibatkan karena berkurangnya hutan primer dan sekunder.

Antara tahun 2010 hingga 2020 terjadi penurunan luas hutan primer sebesar 13.000 hektare, hutan sekunder 116.000 hektare, sawah dan semak belukar masing-masing 146.000 hektare dan 47.000 hektare.

Oleh karena itu, pemerintah segera mengevaluasi seluruh pemberian izin tambang dan perkebunan sawit di provinsi itu lantaran menjadi pemicu degradasi hutan secara masif.

Editorial ditulis oleh redaktur senior RRI.co.id Agus Rusmin Nuryadin

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00