Kebutuhan Pokok Masyarakat yang Tergantung Impor

Pekerja memproduksi tahu di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (6/1/2021). Kenaikan harga bahan baku kedelai impor dari sebelumnya Rp6.500 ribu per kilogram dan kini naik hingga Rp10.000 ribu menyebabkan pelaku UKM bersiasat mengantisipasi pembengkakan biaya produksi dengan mengurangi ukuran tahu dan porsi campuran kedelai serta menaikkan harga jual tahu dari sebelumnya Rp500 menjadi Rp1.000 per potong. (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Orang bilang ini negeri agraris. Bahkan, kata Koesplus, tongkat kayu saja jadi tanaman. Ikan dan udang menghampiri kita. Itu ternyata lagu nina bobo setengah hoaks zaman sekarang.

Di Negeri yang katanya luas dan subur, sebagian produk pangan utama adalah impor. Jadi, kalau ada orang masih makan tempe dan tahu, lalu juga hobi makan bakso, atau yang suka makan mie instan rebus pakai telor, maka bisa jadi mereka tidak nasionalis. Sebab ternyata, bahan baku utamanya adalah impor. Dengan memakan produk tersebut, yang makmur adalah petani negara lain.

Coba tengok data impor Indonesia. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Momon Rusmono dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI November 2020 menyebut selama Januari-September 2020, impor jagung 911.194 ton dan impor singkong, 136.889 ton. Bayangkan, pohon singkong yang tinggal ditancapkan saja, kita masih impor.

Yang mengerikan adalah impor gandum 8,00 juta ton. Itu adalah bahan dasar mie instan, terigu, dan bakwan goreng. Kedelai 5,71 juta ton. Ini untuk bikin tahu dan tempe. Serta bawang putih 381.775 ton.

Garam yang dibikin dari air laut saja, Indonesia impor. Terakhir, daging sapi yang lembunya bisa merumput di seluruh pelosok negeri, juga impor. Jadi, Indonesia ini negara besar dengan ketahanan pangan minim.

Kalau negara pengekspor memainkan harga, sudah pasti di dalam negeri naik. Maka, percuma saja para pedagang daging sapi protes harga jual mahal, sebab sapi dari Australia sudah naik harganya. Protes saja ke Australia. Menteri Pertanian sudah bolak balik ganti, ternyata tidak berubah juga.

Ini problemnya adalah kebijakan, bukan sekedar persoalan pasar. Memang berat hidup sekarang ini. Perlu dipikirkan juga kalau kita mulai mengurangi makan tahu, makan tempe, makan mie rebus dan makan bakso. Semua produk dasarnya adalah impor.

Kebijakan pemerintah harus berpihak pada petani agar bersemangat berinovasi dan menyiapkan segala kebutuhan pangan dalam negeri. Mahal sedikit tidak apa, yang penting produk bangsa sendiri.

Jangan berpihak terus pada importir dan pedagang, karena mereka hanya cari untung untuk kepentingannya. Walau harga murah, tapi yang makmur petani negara lain.

Komentar ditulis oleh Editor Senior Pro3 Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00