Potensi Hujan Lebat Hingga Minggu Lusa

Pengendara motor melaju di jalan yang terendam banjir di Jalan Gajah Raya, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (23/2/2021). Sejumlah jalan protokol maupun alternatif di Kota Semarang hingga pukul 18:30 WIB terendam banjir dengan ketinggian bervariasi antara sekitar 15-30 cm akibat intensitas hujan tinggi selama sekitar tiga jam pada Selasa (23/2) sore. (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam siaran pers kemarin menjelaskan adanya potensi hujan lebat akibat pergerakan cuaca di beberapa wilayah Indonesia.

Data dari BMKG menyebut, potensi hujan lebat itu akibat adanya tekanan rendah di sekitar Nusa Tenggara Timur yang bergerak ke arah barat yakni sekitar pulau Jawa. Dampaknya sangat mungkin ada hujan lebat disertai petir. Sangat mengkhawatirkan. Perhitungan dan perkiraan BMKG jarang meleset, sebab sudah menggunakan teknologi maju.

Pemerintah sebenarnya cukup responsif karena berupaya untuk mengalihkan potensi hujan lebat tersebut ke selatan yang berarti hujan akan turun di atas laut. Kita perlu mengapresiasi langkah pemerintah yang tanggap. Setidaknya, di Jakarta pada dini hari tadi tidak terjadi hujan lebat dan petir.

Kendati demikian, kewaspadaan harus tetap tinggi. Banyak hal soal cuaca dapat terjadi berikut dampaknya. Sampai saat ini kita belum mampu mengalahkan cuaca. Bahkan berdamai pun tidak bisa. Satu-satunya langkah adalah mengalah dengan iklim dan cuaca.

Hal yang cukup mengkhawatirkan ternyata menurut kepala BMKG Dwi Korita, puncak musim hujan masih akan terjadi sampai bulan Maret mendatang. Artinya selama satu bulan lagi kita akan menghadapi cuaca ekstrem seperti saat ini.

Cukup berat juga tugas pemerintah. Belum juga usai pandemi virus corona, lalu juga dampak pandemi yang masih memprihatinkan secara sosial dan ekonomi, hingga sekarang adalah cuaca ekstrem dengan banjir sebagai dampaknya.

Bagi orang kota, banjir menyusahkan aktivitas mereka. Sedangkan bagi warga desa, mengantisipasi  banjir berarti  sudah harus panen lebih awal, dan itu harganya pasti murah karena bulirnya belum masak dan kandungan airnya tinggi. Kita memang harus banyak prihatin dalam situasi seperti ini.

Komentar ditulis oleh Editor Senior Pro3 RRI Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00