212 Mart di Samarinda

(ANTARA)

KBRN, Jakarta: Menjadi prihatin Juga dengan dugaan kasus investasi usaha 212 Mart di Samarinda. Bahkan pihak Koperasi 212 Syariah Pusat sudah tegas menyatakan sebagai dua entitas hukum berbeda.

Sebenarnya kasus investasi 212 mart di Samarinda seolah persoalan berulang dari jasa investasi yang membawa nuansa agama. Memang sampai saat ini belum ada kejelasan hukum atas kasus 212 Mart di Samarinda, kendati sejumlah investor yang diwakili kuasa hukumnya Kadek Kusuma Werdhana sudah menyampaikan keluhan mereka kepada polisi. Total kerugian sekitar 2 miliar rupiah.

Belum lama ini juga ada kasus dengan embel-embel nuansa agama. Namanya Kampung Kurma. Dana masyarakat yang terhimpun mencapai 300 miliar rupiah. Itu pun belum jelas wujudnya hingga ditangani oleh polisi. Di Sidoarjo ada rumah syariah yang belakangan disebut fiktif. Kerugian publik diperkirakan mencapai 1 triliun rupiah. Modusnya kata polisi, pengembang menyewa lahan, ditutup paving, lalu difoto dan dipasarkan.

Investasi, bisnis, perdagangan, atau apapun kegiatan ekonomi di masyarakat pada dasarnya adalah soal investasi, manajemen dan keuntungan. Dasarnya profesionalisme.

Sudah terlalu banyak umat diiming-imingi kata syariah dalam beragam investasi. Bahkan dalam kasus 212 Mart Samarinda, Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif menampik ada kaitannya dengan komunitas yang dipimpinnya.

Karena itu masyarakat harusnya peka dengan kegiatan ekonomi yang dikaitkan dengan agama dan syariah. Kita pasti juga belum lupa kasus jasa Umroh Fisrt Travel. Bisnisnya pakai nuansa agama, tapi pengelolanya jauh dari nilai agama.

Usut tuntas semua investasi bodong berwajah nuansa agama dan syariah, karena itu pasti merugikan citra ummat dan agama tersebut secara keseluruhan. Pada sisi lain publik pun harus paham, bisnis ya bisnis, tidak perlu tergiur dengan iming-iming nuansa agama. Bisnis itu personal dan profesional. Sedangkan syariah hanya mengatur sistem yang digunakan.

Komentar ditulis Editor Senior Pro3 RRI Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00