Tradisi Medali Emas Cabang Bulutangkis di Olimpiade

Foto: Dua legenda bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti dan Alan Budikusuma, memamerkan medali emas yang mereka raih pada Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol. /(Dok. BWF Olympic Page)

KBRN, Jakarta: Dua medali emas cabang olahraga bulutangkis di Barcelona, hingga kini masih menjadi prestasi tertinggi yang diraih kontingen Indonesia selama keikut sertaan di Pesta Olahraga Akbar dunia tersebut, sejak pertama kali tampil tahun 1948 di London Inggris.

Duet sejoli Pasangan Alan Budikusumah dan Susi Susanti, mampu mengawinkan gelar juara sekaligus meraih medali emas pada Olimpiade di Barcelona Spanyol tahun 1992.

Dua medali emas tersebut juga menjadi awal dimulainya cabor bulutangkis meraih medali emas, setelah sebelumnya pada setiap multi event olimpiade, Indonesia sulit untuk merebut emas.

Indonesia selalu menjadi unggulan pada cabang olahraga bulutangkis, akan tetapi jumlah emas yang didapat tidak pernah mengulangi pencapaian di Olimpiade Barcelona. 

Pada Olimpiade Atlanta tahun 1996, ganda putra pasangan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky menjadi penyumbang medali emas.

Kemudian pada Olimpiade Sydney tahun 2000, Indonesia meraih medali emas lewat ganda putra pasangan Candra Wijaya/Tony Gunawan.

Lalu di Olimpiade Athena tahun 2004, hanya tunggal putra Taufik Hidayat yang menjadi satu-satunya wakil di final dan sukses melanjutkan tradisi emas Olimpiade dari cabor bulutangkis.

Empat tahun kemudian di Beijing, ganda putra pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan menjadi sosok yang mampu mengumandangkan lagu Indonesia Raya.

Di final Pasangan Kido/Hendra menang atas wakil tuan rumah, pasangan Cai Yun/Fu Haifeng. Namun di tahun 2012, pada Olimpiade di London Inggris, Indonesia gagal membawa pulang medali emas.

Tradisi raihan medali emas kembali ditorehkan pada Olimpiade di Rio de Janeiro tahun 2016 lewat Ganda campuran pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Pasangan Owi/Butet di final menaklukkan pasangan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dari Malaysia.

Kini total medali yang dipersembahkan cabang bulutangkis di Olimpiade bagi kontingen Indonesia adalah 7 emas, 13 perak dan 12 medali perunggu.

Lalu bagaimana dengan Olimpiade di Tokyo tahun 2021 ini, apakah Indonesia mampu mengulang tradisi meraih medali emas, dan seberapa besar peluangnya? 

Memang tidak dapat dipungkiri, cabang Bulutangkis masih menjadi harapan Kontingen Indonesia untuk menyumbangkan tradisi meraih medali emas dari 8 cabang olahraga yang tampil di Tokyo.

Olimpiade tahun ini, memang punya atmosfer berbeda bahkan boleh dikatakan lebih berat karena situasi tidak normal akibat pandemi covid19.

Namun terlepas dari kondisi tersebut, tim bulutangkis selalu dibebani harapan yang sama setiap Olimpiade digelar, yaitu membawa pulang medali emas.

Seperti halnya pernah ditanggung dan dirasakan oleh para pemain pada Olimpiade Olimpiade sebelumnya.

Kendatipun demikian Peluang Indonesia untuk meraih medali emas tetap terbuka. Hingga kemarin Indonesia sudah meloloskan dua wakilnya ke babak perempat final masing masing melalui pasangan Praveen Jordan/ Melati Daeva Oktavianti dan pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamulio.

Kita berharap dua wakil Indonesia diganda putra dan ganda campuran mampu meraih medali emas, begitupun di nomor tunggal putra, tunggal putri dan ganda putri.

Di tunggal putra ada Jonathan Christin dan Anthony Sinisuka Ginting. Semoga saja cabang olahraga tepok bulu, masih menjadi tradisi raihan medali emas pada Olimpiade Tokyo tahun ini sekaligus mengangkat rangking Indonesia dalam daftar perolehan medali.

Terakhir pada olimpiade di Brazil Indonesia menduduki posisi ke-46. Demikian komentar selamat pagi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00