Peremajaan Perguruan Tinggi "Tua"

(Ilustrasi)

KBRN, Jakarta: Kendati saat ini masih kondisi Pandemi Covid19, namun perhatian Presiden Joko Widodo terhadap dunia pendidikan tetap ditunjukkan dalam pertemuan Konvensi Kampus XVII dan Temu Tahunan XXIII Forum Rektor Indonesia 2021 secara daring kemarin.

Presiden Joko Widodo sangat perhatian terhadap dunia pendidikan, utamanya pendidikan tinggi. Bisa jadi presiden melihat dunia pendidikan tinggi di tanah air, terutama perguruan tinggi tua, belum memberikan kontribusi dan prestasi akademik signifikan.

Pada era pandemi saat ini saja, hanya sedikit perguruan tinggi yang berkontribusi signifikan dalam penanganan Covid-19. Sebagai perbandingan, agak merinding rasanya menyaksikan peneliti dari Oxford University Professor Sarah Gilbert mendapat "standing ovation" ketika panitia  Wimbledon menyebut atas jasanyalah pertandingan tenis dunia tersebut dapat terlaksana tanpa harus protokol kesehatan. Hal ini terjadi  atas karyanya berupa vaksin Astra Zaneca. Di sini kita masih berangan-angan soal itu. Ini sebenarnya tantangan untuk perguruan tinggi tua.

Pernah pada tahun 2019 saat periode pertama kepemimpinan Presiden Joko Widodo, pemerintah sampai memiliki wacana untuk mendatangkan rektor internasional menjadi pimpinan perguruan tinggi di tanah air. Bahkan Menristek Dikti saat itu, Mohamad Natsir menyebut gaji rektor internasional itu akan dibayar oleh pemerintah tanpa mengurangi anggaran PTN selama ini. Sayang wacana tersebut ditentang sejumlah pihak hingga akhirnya batal.

Kondisi pendidikan tinggi di Indonesia memang memprihatinkan. Jangankan membandingkan dengan Harvard, Oxford, atau MIT. Juga jangan dengan Tsinghua atau Tohoku University di tingkat Asia, membandingkan PTN Indonesia dengan ASEAN saja kita prihatin.

Menristek saat itu pasang target PTN Indonesia masuk 100 terbaik di dunia. Tapi agaknya masih jauh. Berdasarkan QS World Ranking saja, PTN terbaik di Indonesia Universitas Gajah Mada baru berada pada posisi 254. Di belakangnya baru ITB, UI dan IPB.

Coba bandingkan dengan University Brunei Darussalam yang istilahnya baru kemarin sore berdiri, berdasar QS World sudah ada di 250 persis. Di ASEAN ada National University Singapore Rangking 11, University Malaya rangking 65 dan Chulangkorn University 215.

Ini harusnya dipikirkan oleh para rektor perguruan tinggi negeri di tanah air. Sinyalemen presiden harus seris ditanggapi karena PTN dibiayai negara. Sedangkan pada sisi lain, sejumlah perguruan tinggi swasta yang terbilang lebih muda seperti Universitas Bina Nusantara, Universitas Telkom dan Universitas Muhammadiyah Surakarta justru mampu berada pada posisi lebih tinggi dibandingkan banyak PTN lain di negeri ini.

Kita ingin pernyataan presiden dapat terwujud bagi PTN-PTN yang ada, salah satunya dengan mengkaji kembali kurikulum dan model pendidikan yang dilakukan.

Komentar ditulis oleh Editor Senior Pro3 Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00