Afghanistan Harus Bisa Berjuang Tanpa Amerika Serikat

Anggota Pasukan Khusus Afghanistan pergi setelah misi tempur melawan Taliban, di provinsi Kandahar, Afghanistan, Selasa (13/7/2021). (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Pertempuran antara Taliban dan pasukan pemerintah Afghanistan terus meningkat selama dua bulan terakhir, sejak pasukan internasional berangsur-angsur ditarik keluar dari negara itu. 

Taliban, kelompok radikal fundamentalis ini bahkan telah merebut kembali daerah perbatasan dan daerah pedesaan. Provinsi Ghazni merupakan provinsi terbesar ke dua Afghanistan yang akhirnya jatuh ketangan Taliban setelah sebelumnya mereka menguasai, Herat dan Kandahar. Ini tentunya menambah daftar wilayah yang berhasil dikuasai Taliban dalam tujuh hari terakhir menjadi 12 provinsi.

Sejumlah pihak menyebut, hanya soal waktu Taliban segera menguasai ibu kota Kabul, Afghanistan. Sebelum Kabul jatuh ke tangan Taliban, AS, Inggris, dan Kanada perlu mengevakuasi warganya terlebih dahulu  keluar dari Afghanistan.

Meskipun ibu kota Kabul sendiri belum secara langsung terancam oleh gerak maju Taliban, kecepatan serangan itu menimbulkan pertanyaan tentang berapa lama pemerintah Afghanistan dapat mempertahankan kendali atas bagian-bagian negara yang masih dikuasainya? Terkait situasi keamanan di Afghanistan yang genting,  perlukah AS dan sekutunya kembali lagi ke Afghanistan?

Tampaknya AS dan sekutunya di Afghanistan harus membantu pemerintahan sipil  Afghanistan untuk menyapu sekali lagi kelompok radikal itu. Tetapi, bantuan kali ini  hanya untuk  membantu nasib ribuan warga Afghanistan yang bertugas sebagai penerjemah pasukan AS dan NATO selama 20 tahun terakhir, juga terhadap nasib perempuan dan anak perempuan Afghanistan yang dikhawatirkan  mengalami penderitaan sampai batas waktu 31 Agustus 2021.

Mengutip Presiden AS Joe Biden, seperti  dilansir Al Jazeera,  Afghanistan harus berjuang sendiri untuk bangsa mereka. Karena bagaimanapun masa depan Afghanistan itu haruslah ditentukan dan diberdayakan oleh rakyat Afghanistan sendiri. Bukan oleh AS dan sekutunya.

Berakhirnya misi militer AS di Afghanistan secara resmi pada 31 Agustus pada akhirnya  merupakan akhir simbolis dari perang terpanjang Amerika Serikat.

Evakuasi terhadap masyarakat sipil Internasional dan keluarganya diharapkan akan berlangsung kondusif  aman terkendali tanpa pertumpahan darah.

Komentar ditulis Editor Senior  RRI Besty Simatupang

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00