Prospek Menjanjikan Tanaman Porang

(ANTARA)

KBRN, Jakarta: Di tengah suasana pandemi yang masih berlangsung,, rupanya sektor pertanian masih tetap menjanjikan. Sebab bagaimanapun orang masih tetap memerlukan makanan.

Beli baju baru, beli sepatu baru, kebutuhan traveling atau beli kendaraan baru dapat ditunda, sedangkan kebutuhan makan tidak mungkin dapat ditunda.

Kemarin, Presiden Joko Widodo menyebut tanaman porang atau iles-iles. Ini tanaman sebenarnya sudah ada sejak dulu dengan nama latin Amorphophallus oncophyllus atau ada juga yang menyebut Amorphophallus muelleri blume, merupakan tanaman umbi-umbian ini mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, dan serat.

Harga porang itu menarik, kalau dalam bentuk umbi basah di dalam negeri sekitat 10 ribu sampai 15 ribu per kilogram, sedangkan di situs alibaba.com dijual sekitar 12 ribu sampai 22 ribu per kilogram. Untuk bentuk kering sekitar 69 ribu sampai 100 ribu per kilogram.

Dalam satu hektare panen yang bagus dan umbinya besar dapat mencapai 15 ton, sedangkan bila diambil semua umbi dapat mencapai 30 ton tapi besarnya tidak standar. Kalau rerata 15 ton, maka dengan harga 12 ribu rupiah per kilogram, dapat memperoleh 180 juta sekali panen.

Kementan mencatat ekspor porang periode Januari hingga 28 Juli 2020 sebesar 14.568 ton dengan nilai Rp801,24 miliar. Sebelumnya, ekspor porang selama 2019 sebanyak 11.720 ton senilai Rp644 miliar.

Bila menyimak angka-angka tersebut pasti menggiurkan apalagi saat orang banyak kesulitan ekonomi. Ajakan presiden Joko Widodo pasti bagus, namun semua melalui proses, apalagi Presiden akan melarang ekspor umbi porang mentah.

Semua usaha pasti ada proses, jangan dilihat angka penghasilannya dulu, tapi prosesnya, sebab bertani porang yang prospektif mininal punya satu hektare lahan dan tabungan uang sekitar 40 juta sampai masa panen.

Kita dukung anjuran Presiden Jokowi untuk budidaya porang apalagi konsumsi porang bagus untuk kesehatan dan industri.

Komentar ditulis oleh Editor Senior Pro3 RRI Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00