Penjualan Vitamin Palsu di Pasar Daring

(Ilustrasi)

KBRN, Jakarta: Hal yang paling berbahaya bila seseorang mengonsumsi vitamin palsu adalah dampak kesehatan bagi orang tersebut. Sejak pandemi Covid19 makin banyak praktik penjualan obat dan vitamin palsu termasuk di marketplace.

Pada tahun 2020, dalam catatan Badan POM ada 23 jenis obat palsu yang diamankan. Sementara CEO Tokopedia William Taniwidjaja dalam RDP secara virtual kemarin menyebut ada ribuan toko online yang ditutup gegara menjual vitamin palsu di marketplace-nya.

William mengaku bahwa pihaknya sudah mengetahui adanya praktik penjualan vitamin palsu dan sudah berkoordinasi dengan polisi sebelum ramai di media sosial.

Dalam kaitan ini, kita perlu dorong polisi untuk bertindak lebih jauh, terutama aspek penindakan, sebab penanganan obat palsu tidak cukup hanya menutup toko tapi harus ditindak.

Pihak Tokopedia sebagai salah satu marketplace juga tidak dapat hanya mengatakan sudah bekerja sama dengan polisi dan menutup toko online, tetapi juga membuka data toko online tersebut kepada pihak kepolisian. Bahkan ke depannya, perlu ada aturan bahwa semua marketplace harus ikut bertanggung jawab terhadap isi barang dagangan di marketplace-nya.

Ini penting, agar pemilik dan pengelola marketplace semacam Tokopedia juga dapat ditindak bila barang yang dijual merupakan barang bermasalah, semacam obat palsu.

Ibaratnya warung di pinggir jalan, bila terbukti menjual obat palsu, vitamin palsu atau yang palsu lainnya dapat dituntut hukuman walau ia berdalih itu barang titipan orang.

Jadi, persoalan praktik penjualan vitamin palsu bukan hanya soal vitamin palsu, tapi juga tanggung jawab pemilik dan pengelola marketplace.

Komentar ditulis oleh Editor Senior Pro3 RRI Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00